Allah yang Bertindak Langsung

allah-yang-bertindak-langsung

Pada tulisan sebelumnya kami telah membahas tentang kedudukan ahli ilmu di mata Allah berikut dengan konsekuensi bagi penuntut ilmu yang mencoba menerjang batasan-batasan Allah terhadap ahli ilmu. Sebagaimana penulis telah jelaskan bahwa ayat tentang adab kepada ahli ilmu di Al-Qur’an tidak hanya satu, maka dengan izin dari Allah ta’ala penulis akan mencoba menerangkan masalah tersebut.

Mari kita tadabburi firman Allah dalam surah Al-Maidah : 24. Sebenarnya ayat tersebut punya latar kejadian namun penulis mencoba meringkasnya sebagai berikut:

Dalam 4 ayat sebelumnya yakni dari ayat 20 Nabi Musa alaihissalam mencoba mengingatkan Bani Israil tentang nikmat-nikmat Allah berupa dijadikannya dari golongan mereka beberapa Nabi-Nabi, dan menjadi orang-orang yang merdeka setelah sebelumnya mereka dalam kuasa Ahli Qibth (kurang lebih begitu yang dikatakan Imam As-Suddi dalam kutipan Tafsir Al-Baghawi), dan telah diberikan sesuatu yang tidak diberikan kepada seluruh mahkluk di alam ini seperti pemberian Allah berupa Al-Manna dan Salwa (kurang lebih begitu dalam Tafsir Al-Wasith). Setelah itu Musa alaihissalam memerintahkan kepada Bani Israil memasuki tanah yang suci namun Bani Israil menolak padahal karunia-karunia besar dari Allah itu sudah mereka dapati. Berujunglah sampai pada ayat 24.

Tema yang akan kita gali disini adalah tema ketidaksopanan respon seorang murid kepada gurunya.

Allah berfirman :

قَالُوا۟ يَٰمُوسَىٰٓ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَآ أَبَدًا مَّا دَامُوا۟ فِيهَا ۖ فَٱذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَٰتِلَآ إِنَّا هَٰهُنَا قَٰعِدُونَ

Terjemah Arti: Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

Sungguh kalimat yang sangat menyakitkan hati kita dengar dari Bani Israil. Ketika nikmat yang begitu banyak dari Allah telah mereka rasakan justru ini balasan mereka kepada rasul sekaligus ahli ilmu dari mereka yakni Musa alaihissalam. Kalimat itu sungguh sangat membuat Musa marah sehingga wajar beliau berkata pada ayat selanjutnya :

قَالَ رَبِّ إِنِّى لَآ أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِى وَأَخِى ۖ فَٱفْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ ٱلْقَوْمِ ٱلْفَٰسِقِينَ

Terjemah Arti: Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.

Bisakah kita bayangkan seorang guru yang tersiksa karena perkataan yang tidak sopan dari muridnya sampai-sampai guru itu meminta untuk memisahkannya dari golongan orang fasik?

Maka benar saja, Allah haramkan bumi yang disucikan itu untuk mereka dan Allah langsung yang bertindak untuk mereka.
Allah berfirman :

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ ۛ أَرْبَعِينَ سَنَةً ۛ يَتِيهُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ فَلَا تَأْسَ عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْفَٰسِقِينَ

Terjemah Arti: Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”.

Imam As-Sa’di mengatakan dalam tafsirnya

أي: إن من عقوبتهم أن نحرم عليهم دخول هذه القرية التي كتبها الله لهم، مدة أربعين سنة، وتلك المدة أيضا يتيهون في الأرض،

sesungguhnya termasuk bagian dari hukuman untuk mereka kami haramkan atas mereka untuk masuk ke dalam kampung yang telah Allah tetapkan untuk mereka dalam jangka waktu 40 tahun. Dan jangka waktu itu pula mereka tersesat (terombang-ambing) di bumi”

Para pembaca yang budiman, demikianlah kesudahan bagi para penuntut ilmu yang bertindak tidak sopan kepada ahli ilmunya. Padahal, itu hanya dilakukan oleh lisan-lisan mereka. Maka bayangkan hari ini bila kita bertindak sesuka hati dengan menyakiti para ahli ilmu dengan mata, lisan, atau bahkan anggota tubuh lainnya.

Sungguh bagi mereka yang masih bertindak demikian maka tiadalah yang mereka tunggu kecuali tindakan dari Allah berupa hukuman langsung dari Allah. Allah tidak menyuruh para malaikat-Nya, tidak menyuruh nabi-Nya, tidak menyuruh para makhluk-makhluk-Nya yang lain. Tapi Allah sendiri yang akan langsung bertindak.

Sebagai penutup, mari kita simak hadits mulia dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادى لي ولِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ

Sesungguhnya Allah berfirman : “barangsiapa yang menimbulkan rasa benci / memusuhi wali-Ku maka telah aku umumkan perang terhadapnya.

Dan di antara para wali Allah yang berjalan di muka bumi ini ialah para ulama, para ahli ilmu.

Demikianlah tulisan ini dibuat agar kita semakin faham bahwa guru yang mengajari kita bukan orang sembarangan yang Allah kirim untuk kita. Maka mari jaga hati guru-guru kita dengan menjaga adab kepada mereka.

 

Hamba Allah (AGA 5)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*