Belajar Bukan Supaya Pintar

belajar-bukan-supaya-pintar

“Rajinlah belajar, supaya kamu pintar.”

Itulah nasihat yang banyak digaungkan banyak orang sekarang ini. Banyak orang tua yang menyuruh anaknya belajar, dengan harapan agar anaknya tumbuh menjadi orang yang pintar.

Namun di balik itu, banyak pula yang mengamini bahwa negeri ini memiliki banyak masalah bukan karena kurang banyak orang yang pintar. Justru banyak sekali orang yang pintar di negeri ini. Namun, mengapa banyak masalah umat yang tidak mampu diselesaikan oleh orang-orang pintar? Nastaghfirullah Al-Adzim.

Kita bisa mengetahui akar masalah sekaligus mendapatkan solusi dari masalah negeri ini dengan mencari best practice. Kita perlu menggali rujukan terbaik yang pernah ada. Dan hal itu bisa kita dapatkan dari cara Rasulullah Shallallahu alayhi wa Sallam memperbaiki generasi Shahabat sehingga menjadi generasi terbaik yang pernah hadir di dunia.

“Innama bu’itstu mu’allima. Sungguh aku diutus sebagai guru,” sabda beliau dalam satu penggalan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dan beliau adalah bukan sembarang guru. Beliau adalah uswatun hasanah, teladan terbaik, termasuk dalam menjadi guru. Guru terbaik yang murid-muridnya menjadi generasi terbaik.

Rasulullah merupakan pengabulan dari doa yang Khalilullah Ibrahim alayhi salam panjatkan bersama anaknya, Ismail alayhi salam. Setelah kedua orang mulia ini mendirikan pondasi Ka’bah, mereka berdoa yang di antaranya:

“Yaa Rabb kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS Al-Baqarah: 129)

Allah menjawab doa tersebut dengan mengangkat orang paling mulia untuk menjadi penutup para Nabi. Dalam beberapa ayat, Allah memfirmankan jawaban dari doa tersebut.

Yang pertama dalam surat Al-Baqarah ayat 151, “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan menyucikanmu dan mengajarkan kitab dan hikmah serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.”

Yang kedua dalam surat Ali Imron ayat 164, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Lalu yang ketiga dalam surat Al-Jumu’ah ayat 2, “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Perhatikanlah pada 2 ayat terakhir, Allah menjelaskan bahwa sebelum Rasulullah diutus, manusia berada dalam kesesatan.

Rasulullah pun mengajarkan para Shahabat. Namun tujuannya bukan agar para Shahabat menjadi orang-orang yang pintar, walau banyak dari mereka yang akhirnya memiliki kecerdasannya yang luar biasa. Tujuan dari upaya Rasulullah mendidik adalah agar umat ini tidak berada pada kesesatan.

Dari merenungi ayat-ayat inilah kita menjadi mengetahui mengapa masalah di negeri ini tidak kunjung beres. Sulit rasanya untuk merasa ridha dengan kondisi umat sekarang ini. Salah satu penyebabnya adalah bahkan dalam hal niat belajar saja kita sudah salah.

Rajin belajar itu bukan supaya pintar. Namun tujuan rajin belajar adalah agar kita tidak tersesat.

Dari petunjuk wahyu ini, kita menyadari mengapa banyaknya orang pintar tidak akan menyelesaikan masalah umat. Akar masalahnya adalah orang-orang pintar ini berada dalam kesesatan yang nyata.

Setelah mengoreksi tujuan kita dalam belajar, kita perlu memperbaiki proses kita dalam belajar. Dari ayat-ayat di atas, dapat kita amati adanya urutan dalam belajar. Jika urutannya salah, maka hasilnya tidak akan optimal.

Dalam Al-Baqarah ayat 129, Nabi Ibrahim menyebutkan urutan tugas Rasulullah dalam doanya, yakni:

  1. Membacakan ayat
  2. Mengajarkan kitab
  3. Mengajarkan hikmah
  4. Menyucikan jiwa

Namun, jawaban Allah dalam Al-Baqarah ayat 151 ternyata urutan tugas Rasulullah itu membacakan ayat lalu menyucikan jiwa. Setelah jiwa para Shahabat bersih, barulah RasuluLlah mengajarkan kitab dan hikmah.

Ilmu yang kita miliki akan rentan menghasilkan keburukan jika jiwa kita kotor. Betapa bahayanya orang berilmu yang jiwanya kotor. Banyaknya ilmu membuat orang tersebut diikuti masyarakat, namun kotornya jiwa malah akan menyesatkan banyak orang. Itulah sebabnya, penting sekali bagi kita untuk memperhatikan urutan dalam belajar.

Jika kita rangkum urutan pendidikan yang Rasulullah berikan dalam 3 ayat di atas, akan kita dapatkan 5 tahapan berikut:

  1. Mengakrabkan murid dengan ayat Quran
  2. Setelah ayat dibaca, sucikan jiwanya
  3. Setelah jiwanya suci, baru belajar ilmu, ilmu pertama yang dipelajari adalah ilmu alkitab
  4. Setelahnya ilmu hikmah
  5. Setelah semua itu barulah murid belajar ilmu-ilmu lainnya yang bermanfaat

Ilmu perlu dibangun di atas pondasi yang benar. Ayat Al-Quran dan jiwa yang suci merupakan pondasi orang-orang yang berilmu. Karena urutannya tidak benar, apalagi jika niatnya saja salah, hari ini kita lihat betapa banyak pakar dan ilmuwan yang tidak mampu memberikan solusi jitu atas masalah umat, padahal selama ini ilmu itulah yang mereka dalami.

Negeri ini menunggu hadirnya orang-orang yang benar-benar memperbaiki. Begitu banyak orang yang ingin memperbaiki negeri, namun ternyata malah menimbulkan kerusakan. Salah satu di antaranya adalah penulis sendiri, yang masih sangat faqir ilmu. Na’udzubiLlah.

Ilmu ini, yang penulis dapat dari muqaddimah kuliah Karakter Iman yang Ustadz Budi Ashari ampu dan juga dari kuliah Tazkiyatun Nafs Ustaz Anton Fitoko, menjadi petunjuk bagi penulis untuk memperbaiki niat dan urutan proses belajar. Semoga dengan usaha memperbaiki diri ini, Allah ridha atas diri penulis.

Semoga sedikit catatan kuliah penulis di Akademi Guru Al-Fatih ini, bermanfaat bagi penulis, dan juga bagimu.

Ya Allah, berilah kami petunjuk, dan jangan Engkau biarkan kami berada dalam kesesatan.

 

Mohammad Ferandy

(AGA 6)

1 Comment

  • Shanum

    Assalamu’alaikum Warrahmatullahi wabarraktuh,
    ‘afwan izin copy tulisan untuk di bagikan, insya Allah tetap mencamtukan linknya 🙏

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*