Dari Mana Makananmu Berasal?

dari-mana-makananmu-berasal

AKADEMI GURU AL FATIH | Seorang Anak duduk di salah satu tepian dapur, sambil memandang ke arah luar melalui pintu belakang rumahnya. Dipegangnya sebuah piring berisikan nasi, potongan ayam goreng, lengkap dengan kecap dan beberapa keping kerupuk berwarna putih. Sesekali ia lempar beberapa jumput makanannya ke luar melalui pintu belakang rumahnya, tepat di mana ia duduk di dekatnya, sehingga beberapa ekor ayam pun datang mendekatinya.

Sang Ibu yang melihat kejadian tersebut segera berkata “Nak, habiskan makananmu dengan baik, jangan dilempar-lempar. Makanan itu harus dihormati”. Setelah iu terjadilah dialog diantara keduanya:

Anak : Kenapa makanan harus dihormati Bu?

Ibu : Karena makanan itu sampai kepada kita, bukan secara tiba-tiba. Ia harus dicuci dulu dan dimasak sampai matang.

Anak : Ooh begitu Bu.

Ibu : Nak, apakah kamu tahu dari mana makananmu berasal?

Anak : Tidak tahu Bu. Lalu dari mana ia berasal?

Ibu : Makanan itu dari Allah ﷻ Nak. Bahkan untuk mendatangkannya, Allah ﷻ menjadikan Api, Air, Angin dan Tanah saling bekerjasama.

Anak : Kok bisa? Maksudnya bagaimana Bu?

Ibu : Bisa Nak, penjelasannya ada di dalam kitab suci kita; Al Qur’an Al Karim.

Demikianlah sekiranya dialog imajiner antara seorang Ibu dengan Anaknya. Dialog tesebut sangat mungkin juga terjadi di antara kita, baik di masa lalu ataupun di masa yang akan datang.

Dalam dialog tersebut, sang Ibu mengatakan bahwa Allah ﷻ menjadikan Api, Air, Angin dan Tanah saling bekerjasama. Lalu bagaimanakah penjelasannya?

Perhatikanlah firman Allah ﷻ dalam QS. An-Naba’ berikut:

وَجَعَلۡنَا سِرَاجٗا وَهَّاجٗا ١٣ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡمُعۡصِرَٰتِ مَآءٗ ثَجَّاجٗا ١٤ لِّنُخۡرِجَ بِهِۦ حَبّٗا وَنَبَاتٗا ١٥ وَجَنَّٰتٍ أَلۡفَافًا ١٦

  1. Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (Matahari)
  2. Dan Kami turunkan dari awan/angin air yang banyak tercurah
  3. Supaya Kami tumbuhkan dengannya biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan
  4. Dan kebun-kebun yang lebat

Dalam QS. An-Naba’ ayat 13 di atas, yang dimaksud dengan pelita yang amat terang adalah Matahari. Kita tahu bahwa Matahari adalah sebuah bola Api raksaksa, sehingga kalimat Siroj (Pelita) memiliki kesamaan dengan Matahari, karena keduanya menyala oleh Api.

Kemudian pada ayat 14, kalimat Mu’shirot bisa berarti Awan atau Angin[1]. Maka lihatlah bagaimana Allah ﷻ menjadikan panasnya matahari mampu menjadikan Air di lautan dan sungai-sungai menguap. Lalu dijadikan-Nya uap air itu melayang dan membentuk awan di langit, Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ar-Rum:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابٗا فَيَبۡسُطُهُۥ فِي ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ يَشَآءُ وَيَجۡعَلُهُۥ كِسَفٗا فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَٰلِهِۦۖ فَإِذَآ أَصَابَ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ٤٨

  1. Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.

Lihatlah! Betapa hujan yang Allah ﷻ turunkan dari Langit, sungguh merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa. Lihatlah bagaimana lautan dan sungai-sungai menguap oleh panasnya Api Matahari; lihatlah bagaimana Angin membentuk gumpalan-gumpalan Awan di Langit; lihatlah bagaimana Angin itu memeras Awan yang penuh dengan Air; dan lihatlah bagaimana Air itu turun membasahi Bumi.

Selanjutnya perhatikanlah firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Hajj:

وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ ٥

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*
Powered by