Di Balik Kemudahan Proses Persalinan

di-balik-kemudahan-proses-persalinan

Alhamdulillah, banyak sekali ilmu yang bisa kita dapatkan di Akademi Guru Al-Fatih. Dan in syaa Allah, ilmu yang didapat tidak hanya bermanfaat di waktu itu saja. Tapi hingga ke level kehidupan kita selanjutnya. Beginilah kisah seorang alumni AGA, tentang bagaimana mengaplikasikan ilmu yang didapat selama di AGA dalam status kehidupan selanjutnya.

***

Selain terus berdo’a dan meminta pertolongan Allah, jelas itu yang pertama dan utama, ada hal yang saya rasa memudahkan proses persalinan saya pada bulan Januari lalu. Apa itu? Dengan segala keterbatasan ilmu, izinkan saya untuk berbagi pengalaman pertama merasakan dahsyatnya kontraksi menjelang persalinan…

Suatu hari, saya bertanya kepada suami, “Bagaimana jika lahirannya caesar?” Beliau jawab dengan singkat dan jelas, “Yang penting sudah berusaha dulu. Mau nanti normal atau caesar, ya itu kehendak Allah.”

Jawaban suamiku langsung kulahap dan dengan mudahnya kucerna. Teringat pesan asatidz, “Berusahalah seakan-akan usaha itu segalanya, kemudian bertawakallah seakan-akan usahamu itu tidak ada apa-apanya.”

Sejak awal hamil, saya sudah bertekad untuk melahirkan secara normal. Sebagai orang beriman, tentu saja keinginan itu tidak hanya sebatas ingin, harus ada ikhtiar dan doa di sana. Hari demi hari berlalu, saya sangat menikmati proses mengandung seorang makhluk hidup baru yang dititipkan oleh Allah di dalam rahim saya. Sungguh Mahakuasa Allah, begitu menakjubkan segala proses yang terjadi mulai dari bertemunya sperma dengan ovum, kemudian terbentuk zigot. Berkembang menjadi morula, blastula, gastrula, dan seterusnya. Allah tiupkan ruh. Janin tersebut terus tumbuh dan berkembang, dari yang hanya gumpalan darah, gumpalan daging, terbentuk tulang, siapa sangka ketika keluar sudah berwujud manusia yang sempurna. Lengkap dengan seluruh organ dan panca inderanya. MasyaAllah.

Kemudian saya menjalani hari-hari mengandung dengan penuh rasa syukur. Setelah melewati trimester 1 yang dihiasi dengan nikmatnya mual-muntah, saya mulai berolahraga ringan dengan berjalan kaki minimal 15 menit. Alhamdulillah Pak Suami selalu setia mendampingi. Tidak hanya ketika berjalan kaki, tapi setiap kali kontrol, telinga suami saya bak audio recorder tercanggih. Beliau akan merekam dan sangat hafal penjelasan Bu Bidan. Beliau akan lebih detail menjelaskan berapa gram sayur yang harus saya konsumsi per hari, berapa liter air, exercise apa saja yang bisa saya lakukan untuk memudahkan proses persalinan nanti, dan seterusnya, setiap PR dari Bu Bidan beliau perhatikan dengan seksama.

Sebulan menjelang hari perkiraan lahir (HPL), saya cuti dan pulang ke rumah orangtua saya di Lombok, sehingga saya dan suami terpisah jarak untuk sementara waktu. Saya pulang dan semakin giat persiapan fisik dan mental. Setiap hari saya belajar dari berbagai sumber. Entah itu dengan membaca, mendengar, menonton video penjelasan beberapa bidan, dan lain-lain.  Kemudian suami saya membuatkan list apa saja yang harus saya lakukan per hari dan saya harus mengirimkam laporannya setiap malam, seperti ini contohnya.

Saya akan sedikit bercerita mengenai beberapa cheklist di atas. Pertama, jalan kaki. Setiap pagi, selepas dzikir pagi, saya melakukan power walk kurang lebih 1 jam bersama ibu. Di perjalanan, tidak jarang kami bertemu dengan kerabat ibu, beliau-beliau selalu mendoakan agar proses persalinan saya dimudahkan oleh Allah. MasyaAllah, saya sangat bahagia mendapatkan banyak bonus++ atas doa-doa yang beliau panjatkan. Pasalnya, selain power walk yang disarankan Bu Bidan untuk melatih otot panggul dan menjaga kondisi tubuh agar tetap fit, saya juga dibanjiri oleh doa-doa.

Kedua, naik-turun tangga. Saya melakukannya minimal 4x naik-turun tangga dalam sehari. Exercise ini berdasarkan pengalaman dari kakak ipar saya yang lama menunggu bertambahnya bukaan, dokter tempat beliau periksa menyarankan untuk naik-turun tangga agar janin cepat turun ke panggul.

Ketiga, main gymball. Nah ini favorit saya, karena selain melatih otot panggul agar lebih lentur, saya juga bisa merasakan manfaatnya langsung yaitu mengurangi pegal-pegal dan perut begah karena gerakannya memberikan space di dalam perut. Ada 10 gerakan gymball yang saya pelajari di channel youtube salah satu bidan, masing-masing gerakan saya lakukan sebanyak 20x dan itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Saya bisa melakukannya sambil membaca atau mendengarkan penjelasan dokter atau bidan di channel youtube.

Keempat, sujud. Apa pasal saya disuruh sujud begitu lama oleh Pak Suami? Karena janin yang ada di dalam rahim saya pernah diprediksikan sungsang di usia 36 week. Setelah di USG dan terlihat kepala janin berada di atas, kata dokter, “Bayimu sungsang, kemungkinan besar melahirkannya Caesar, ya.” Sepulang dari sana, mental saya langsung down dan saya tidak bisa mengelak untuk tidak bersedih. Namun suami saya selalu menyemangati agar selalu berdoa dan meminta pertolongan Allah. Beliau sarankan untuk banyak bersujud agar memberikan ruang yang lebih untuk bayi bisa bergerak lebih leluasa. Kemudian saya selalu mengajak bayi berbicara dan memintanya untuk memutar kembali agar kepalanya di bawah. Setelah divonis sungsang, saya banyak mencari tahu bagaimana agar kepala bayi bisa memutar kembali ke jalan lahir. Setelah mendapatkan ilmunya, saya mengamalkannya atau praktik langsung ilmu yang saya dapatkan seperti sujud lebih lama, berjalan kaki, dan melakukan berbagai senam agar kepala bayi tidak sungsang. Dan dengan kuasa Allah, ketika diperiksa lagi, kepala janin sudah di bawah, Alhamdulillah.

Kelima, minum air 4 botol. Saya minum 4 botol kapasitas 700 ml dalam sehari, artinya dalam sehari saya minum kurang lebih 2800 ml. Kemudian beberapa hal lain yang harus saya laporkan kepada suami adalah saya minum susu 2x sehari, minum vitamin, makan buah, sayur, 5 butir kurma, dan minum 2 sdm minyak zaitun.

Sebenarnya ada exercise yang sangat ampuh berdasarkan review teman-teman yang sudah melahirkan, yaitu squat. Qodarullah karena lutut saya sakit, jadi saya memilih beberapa exercise yang insyaAllah mampu saya lakukan dengan istiqomah. Kemudian kalau ditanya, apakah saya tidak bosan dan lelah melakukannya setiap hari? Terkadang ada rasa lelah, apalagi ketika sujud lama dalam keadaan perut sudah sangat besar dan berat. Terkadang ada rasa malas untuk berjalan jauh dengan membawa beban berat di perut. Tetapi ada satu hal yang sangat menguatkan saya untuk melakukan itu semua. Lagi-lagi, ini adalah hasil menuntut ilmu di Akademi Guru Al-Fatih.

Setiap perkuliahan di AGA, saya duduk di barisan paling depan, saya perhatikan dengan seksama ketika asatidz memberikan penjelasan. Dan salah satu nasihat yang masuk dengan sangat ikhlas ke dalam jiwa dan raga saya saat itu adalah tentang taat kepada suami. Saya sangat ingat sekali, tidak hanya satu dosen yang memberikan nasihat tersebut, dan tidak hanya sekali saja, bahkan berkali-kali beliau mengulang bahwa kunci surga seorang istri adalah taat pada suami.

“Ketaatan pada suami itu mutlak kecuali jika disuruh maksiat,” begitulah tepatnya asatidz di Akademi Guru Al-Fatih menyampaikan. Saya tangkap nasihat itu dengan sangat jelas.

Sebelum menikah, saya tekadkan itu kuat-kuat untuk diamalkan nanti setelah menikah. Saya memohon pertolongan Allah agar menjadikan saya istri yang taat pada suami. Dan semua itu tujuannya adalah satu, untuk mencari ridha Allah subhanahu wata’ala.

Sampai hari itu tiba, pagi jam 2 saya terbangun karena beberapa kali merasakan kontraksi palsu. Daripada memaksa tidur dan tidak bisa, saya gunakan waktu itu untuk mengerjakan tugas matan jazary, sholat tahajud, kemudian makan biskuit sambil main gymball. Setelah itu, saya bisa tertidur sampai waktu subuh tiba. Setelah selesai sholat, saya mulai merasakan kontraksi yang lebih lama. Kemudian saya segera men-download contraction counter untuk mengecek interval dan frekuensi kontraksi. Setiap 5 menit sekali, saya merasakan kontraksi selama 45-50 detik. Alhamdulillah, sudah masuk fase laten. Saya segera menghubungi bidan tempat saya akan bersalin, beliau minta saya untuk datang ke kliniknya pukul 8.

Sementara menunggu pukul 8, setelah dzikir pagi, ibu sudah standby di depan rumah dan menunggu saya untuk pergi jalan kaki. Beliau tidak tahu, di dalam rumah saya sedang menahan sakitnya kontraksi. Saya beri tahu ibu tentang keadaan saya dan menunda untuk jalan kaki. Sambil menahan rasa sakit, saya mencoba untuk tetap tetang dan melakukan berbagai aktivitas. Saya tetap main gymball sambil menghitung kontraksi yang terjadi dan mengulang kembali ilmu tentang latihan pernapasan. Saya mencoba mengalihkan rasa sakit dengan menyibukkan diri dengan beberes rumah, menyapu, menyiapkan sarapan untuk keluarga, berdiri-berjongkok mengambil barang-barang di lantai tempat makan untuk ditaruh kembali ke tempat semula.

Karena tidak ada sopir yang bisa mengantar, saya menunggu dan baru bisa berangkat ke klinik persalinan pada pukul 9. Setelah diperiksa Bu Bidan, alhamdulillah sudah bukaan 5. Bu Bidan membolehkan untuk pulang dulu atau menunggu di klinik. Saya memilih untuk pulang karena di klinik sepi ditinggal Bu Bidan pergi melayat. Di perjalanan, saya berhenti di mini market untuk membeli susu dan snack sebagai bekal menunggu persalinan. Saking sakitnya kontraksi, saya hampir tidak bisa berdiri di satu posisi untuk menunggu antrian pembayaran. Saya berkeliling memutari dagangan toko sampai akhirnya kasir sepi dan saya bisa membayar belanjaan saya.

Saya pulang ke rumah mertua karena Pak Suami akan pulang. Di rumah mertua, saya kembali main gymball, makan, dan mandi supaya nanti ketika waktunya tiba saya tetap segar dan semangat. Jadwal kepulangan suami sebenarnya adalah pukul 13.00, saya sengaja menunggu beliau. Tetapi karena delay, pukul 14.00 pun beliau belum sampai dan saya memutuskan untuk berangkat lebih dulu ke klinik karena kontraksi semakin intens dan semakin terasa saangat sakit. Di perjalanan saya hanya bisa berdzikir, setiap kontraksi datang saya hanya bisa mengatur napas semampu saya, selebihnya pasrah dan lemas mengerang menahan rasa sakit. Setiba di klinik, Bu Bidan bertanya, “Apakah rasa sakitnya masih bisa ditahan?” Saya jawab masih dan saya melanjutkan main gymball sambil makan roti. Ketika sudah tidak tahan lagi, saya diperiksa kembali dan Alhamdulillah sudah bukaan 8. Suami saya belum kunjung tiba, dan sakitnya kontraksi semakin intens dan tak tertahankan. Saya hanya bisa berdzikir di atas ranjang sambil menahan sakitnya kontraksi yang begitu dahsyat.

Menjelang persalinan, entah pukul berapa saya sudah tidak peduli lagi, suami saya datang dan langsung menguatkan. Tidak lama setelah beliau datang dan menemani proses persalinan itu, dengan penuh rasa syukur atas pertolongan Allah, pukul 15.18 tangis pertama bayi itu langsung pecah. Alhamdulillah bini’matihi thatimmusholihat, saya merasakan kebahagiaan yang begitu melegakan. Semoga anak kami menjadi anak yang sholih penyejuk pandangan, menjadi ahli ilmu, ahli Quran, dan bermanfaat bagi umat, Aamiin yaa Rabbal’alamiin.

Sekian pengalaman yang bisa saya bagi dengan segala keterbatasannya. Semoga bisa bermanfaat untuk calon ibu yang sedang menunggu kelahiran buah hati. Kemudian apa kesimpulannya? Apa yang ada di balik kemudahan proses persalinan?

Inilah salah satu materi yang dibahas dalam perkuliahan Parenting Nabawiyah di Akademi Guru Al-Fatih, yaitu hak dan kewajiban istri terhadap suami. Di antara kewajiban seorang istri adalah ketaatan pada suami yang in syaa Allah berpahala besar di sisi Allah. Karena setelah seorang perempuan menikah, maka kunci surganya adalah suami.

Hanya sedikit berbagi kisah, tapi semoga yang sedikit ini memberi banyak manfaat dan keberkahan. Wallahua’lam.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _