Hikmah Di Balik Bencana

hikmah-di-balik-bencana

Menghadirkan Hati

On Frame: Sholat Idul Adha di posko

Dua minggu di pengungsian, bersama korban gempa bumi di Lombok. Gempa bumi yang berlarut-larut. Yang semoga saja, hari ini tak terjadi lagi. Dua minggu bersama orang-orang yang tak pernah saya temui sebelumnya; bersama orang-orang yang sudah merasakan berbagai bentuk kehilangan selepas gempa 7 SR mengguncang. Dan di tengah-tengah berbagai bentuk kehilangan itu, ada sesuatu yang bisa ditemukan. Ya, hikmah.

Dari sana, kami Mahasiswa Akademi Guru Al Fatih yang bertugas sebagai relawan TAWAF belajar bahwa:

  1. Dunia, tak seberharga itu. Kami menyaksikan bangunan-bangunan baru dan besar yang kemudian retak parah maupun ambruk. Kemudian apa? Tidak bisa apa-apa. Karena memang bukankah hakikat dunia memang begitu? Fana. Seperti fatamorgana. Dari kejauhan, sangat meyakinkan. Tapi ketika dilihat lebih dekat, dimaknai lebih dalam, ia tak seberharga itu. Ia tak abadi, bukan? Masih belum percaya? Cobalah ke sana.
  2. Kun fayakun. Kami semakin yakin, betapa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika Ia ingin merenggut sesuatu, maka akan hilang begitu saja, dengan seketika. Dari sini, masihkah tak takut untuk menyelisihi perintah-Nya? Dari sini, masihkah enggan bersimpuh dengan ta’zim; masihkah enggan kembali dengan niat yang sempurna: meraih ridhoNya? Karena jika Ia tak menyukai seorang hamba, untuk apa lagi menghabiskan waktu di bumi, yang setiap hela nafas adalah penambah siksa? Untuk apalagi dan dengan apa lagi harus berjuang jika bukan untuk dan dengan cara-Nya?
  3. Bersyukur atas segala nikmat. Ya, sesederhana tidur beralas kasur; sesederhana tidur di dalam rumah; sesederhana bisa mandi dan wudhu di kamar mandi yang terturup rapi; sesederhana bisa berpakaian yang rapi. Yang kesemuanya tak lagi menjadi sederhana, ketika bersama mereka yang tidur beralas dan beratapkan terpal. Bersama mereka yang harus mengantri untuk dapat ke kamar mandi. Bersama mereka, yang harus bertahan di tengah berbagai kehilangan.
  4. Mencintai tanpa tapi. Hidup bukan lagi tentang “aku dan keluargaku” tapi menjadi “kami dan pengungsi yang lain”. Yang mengharuskan kita untuk berbagi, berbaur, dan saling memahami kondisi satu sama lain. Tidak ada lagi, yang dihormati karena rumah besarnya, harta melimpahnya. Tapi tentang, siapa yang menerima dengan kelapangan jiwa; siapa yang masih bisa tenang dan menenangkan di tengah keriuhan bencana.
  5. Ternyata sakit, bukan hanya tentang fisik. Awalnya, saya pribadi berpikir bahwa tim medis adalah yang terhebat. Dan tak banyak yang bisa saya lakukan, sebagai seorang guru. Tapi ternyata, korban yang tak berdarah pun, jiwanya mulai tak terarah. Tapi ternyata, korban bukan hanya tentang luka fisik, tapi juga ketidakstabilan jiwa. Bahwa ternyata, Allah menciptakan berbagai macam peran, untuk saling mengisi, saling melengkapi. Tim kesehatan mengobati luka fisik, dan kami berusaha mengobati jiwa yang mulai goyah. Mendidik dengan cara dan konten yang benar, dengan tak lupa menghadirkan hati.
  6. Untuk tetap seimbang, manusia perlu terus bergerak. Menjadi saksi anak-anak, terlebih orang dewasa berusaha mencari aktivitas untuk dapat ‘menyembuhkan’ luka mereka. Karena trauma healing terbaik adalah dengan membuat mereka merasa berdaya.
  7. Cinta adalah memberi. Memberi, lagi-lagi, bukan hanya tentang materi tapi tentang makna yang terkandung di dalamnya. Setelah berusaha memberi apa yang kami punya, anak-anak dusun Mentigi, Desa Malaka, Pemenang, KLU itu, di hari perpisahan dengan relawan TAWAF Gelombang I, mencari benda terbaik yang bisa mereka berikan. Yang paling anti biasa, beberapa dari mereka memberikan mie instan. Ya, karena itu yang mereka punya di rumah tenda-tenda mereka. Dan dengan secarik kertas, atau potongan karton; dengan tinta atau sisa-sisa arang, mereka mengungkapkan kasih sayang mereka. Manis. Dan air mata saya merembes saat itu. Saat terbangun, kemudian menemukan surat-surat beserta ‘hadiah terbaik’ dari mereka.
  8. Belajarlah, kita tidak pernah tau kapan dan di mana ilmu itu bisa kita ajarkan. Itu yang saya rasakan sangat membantu saat berada di tengah-tengah mereka: ilmu. Karena bukankah, kita harus memiliki, untuk dapat memberi? Berisi untuk dapat mengisi?
  9. Muslim yang satu dengan yang lain bagai satu tubuh; jika satu bagian sakit maka bagian tubuh yang lain akan merasakannya. Masya Allah, berbagai macam bantuan, fisik maupun tenaga mengalir dari berbagai pelosok negeri. Merasakan sekali kuatnya ikatan ukhuwah islamiyyah; merasakan sekali nikmatnya disatukan dalam satu negeri, Indonesia.
  10. Menyaksikan kembalinya laki-laki ke masjid sementara (read: tenda). Pemandangan yang menyejukkan mata setiap kali adzan berkumandang. Berbondong-bondong menuju masjid, entah dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan yang masih selamat. Dan dengan ceramah yang menyulut semangat memperbaiki, yang meluaskan sabar, yang menguatkan hati. Dan yang paling mengharukan? Saat gempa, ada yang mengingatkan untuk kembali, bergantung hanya kepada Allah. Untuk kembali, menjadi hamba yang tunduk pada Rabbnya.

Dan masih banyak yang lainnya. Semoga Allah memberikan semua yang berjuang membantu, hati yang selamat; niat yang ikhlas. Serta mengukir nilai yang membekas di jiwa; membagi ilmu yang diamalkan oleh para korban.

How Do We Do It?

Ada banyak hal yang saya pelajari dari cara bekerja tim TAWAF Peduli Lombok :

  1. Membantu dengan sebaik-baiknya. Dengan apa? Dengan datang kemudian memberi yg terbaik, memberi makna, dan merancang serta membangun sistem yang berkelanjutan. Selain mendidik, TAWAF bersinergi dengan Bank BNI Syariah yang berkomitmen membangun kembali sarana pendidikan di Dusun Mentigi. Jadi, taj hanya sekedar mampir, kemudian tak meninggalkan jejak. Namun, mengisi dengan ilmu dan amal, serta turut serta membangun kembali sarana belajar siswa yang porak-poranda pasca gempa.
  2. Sabar. Hari pertama, kedua, ketiga, entah karena gempa yang terus meneror, atau karena terlalu banyak kehilangan, anak-anak yang datang jumlahnya tak seberapa. Tapi, TAWAF tetap memberi yang terbaik. Tak berbeda ketika yang datang hanya sedikit. Terus begitu. Dan akhirnya, lihatlah… Bagaimana Allah menggerakkan hati anak-anak PAUD, SD, serta ibu-ibu untuk hadir bersama kami di bawah tenda sederhana TAWAF.
  3. Menanamkan kebenaran, dengan sumber yang benar, dengan cara yang benar. Seperti apa? Yang dicontohkan Rasulullah saw. Sesederhana drama singkat kami yang tak bermusik, tak perlu make-up, tak perlu neko-neko. Tapi.. Betapa mata mereka berbinar menatap ke arah panggung (r: tenda sederhana kami).
  4. Iman. Materi dan praktik. Tak hanya mengajarkan iman, tapi kami, malam itu, tanggal 26 Agustus 2018, saat banyak warga termakan issue gempa besar-besaran, di saat itulah kami menaiki boat, menyebrang ke Gili Trawangan. Tawakkal. Bergantung hanya kepada Allah. Yakin hanya kepada Allah. Pun saat kegiatan outbond di kaki bukit. Kami merasakan kelas iman yang sesungguhnya. Kami digoncang gempa, dan anak-anak mulai berteriak ketakutan. Dan dengan sigap, salah satu Ustadz memimpin anak-anak berdoa agar Allah menenangkan bumi-Nya, kemudian bertakbir.
  5. Menuntaskan kebutuhan internal, kemudian memberi terbaik keluar. Kebutuhan para relawan, lengkap dengan herbal penjaga daya tahan tubuh sudah disiapkan. Saya hanya tidak terbayang, jika relawan sakit, maka tugas-tugas di lapangan bisa jadi kocar-kacir.
  6. Agenda yang terancang dengan baik dan benar. Rapat persiapan serta evaluasi menjadi agenda rutin kami. Merencanakan dan menyiapkan materi terbaik yang kami harapkan tertambat di hari para siswa. Pun saat transisi relawan gelombang I dan II, kami berdiskusi terlebih dahulu, menyamakan suhu, menyiapkan materi. Hingga saat gelombang I kembali ke Depok, Gelombang II telah siap, bahkan lebih siap memberi yang terbaik untuk warga dusun Mentigi dan sekitarnya. Alhamduillah TAWAF berikhtiar dengan sangat well-prepared. Kuat di dalam, totalitas di luar! Allahu akbar!

Untukmu wahai guru peradaban, selamat berbagi dengan hati; dengan kelembutan dan ketegasan. Selamat mengisi kekosongan jiwa mereka akan kehangatan dan kelembutan.

Wallahu a’lam bis showab.

Hikmah di balik ujian | Dusun Mentigi, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, 18 Agustus – 1 September 2018

Oleh: Siti Nurjannatun

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*
Powered by