Iman Kepada Hari Akhir

iman-kepada-hari-akhir

Inspirasi Perkuliahan Character Building: Jum’at, 5 April 2019

Iman kepada hari akhir adalah keyakinan akan kedatangan, terjadinya, dan tahu akan gambaran peristiwanya. Hasil iman kepada hari akhir adalah adanya pengaruh terhadap pola pikir, sikap, dan tindakan seseorang.

Ketika ketiga hal ini (pola pikir, sikap dan tindakan) tidak saling berpengaruh maka kita perlu evaluasi, apa penyebabnya?

Lalai.

Iya, lalai menjadi kendala terbesar untuk manusia. Sering kita lalai, namun banyak dari diri yang tidak menyadarinya. Biasanya, kita menyadari kelalaian saat sudah terjadi. Karena sesungguhnya setan tidak akan pernah lengah untuk menggoda dan menjadikan manusia selalu lalai sehingga lupa terhadap hari akhir. Setan akan mengambil kesempatan sampai pada waktu sakaratul maut.

Dari Jabir Ibn Abdullah, bahwa Rasulallah shallallahu ’alahi wassalam bersabda, “Sesungguhnya setan mentadangi salah seorang kalian dalam setiap situasi dan kondisi bahkan pada saat makan. Dan jika kunyahan makanan salah seorang kalian jatuh, hendaklah ia membersihkan bagian yang kotor lalu memakannya, dan tidak membiarkan dimakan setan, hendaklah ia menjilat jari-arinya, karena ia tidak tahu di makanan yang mana terdapat keberkahan.”

Para ulama menyebutkan bahwa setan mendatangi manusia pada saat-saat genting dengan menyamar sebagai ayah, ibu, atau orang lain yang dikenal sambil memberi nasihat dan mengajak untuk masuk agama Yahudi, Nasrani, atau agama lain yang bertentangan dengan Islam.

Al-Qurthubi berkata, “Aku mendengar guru kami, Imam Abu al-Abbas Ahmad ibn Umar al-Qurthubi, berkata: Aku menyaksikan ketika saudaraku, Syekh Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad al-Qurthubi, sedang sekarat di Cordova. Dikatakan kepadanya ucapan “La ilaha illa Allah”, namun, jawaban yang keluar dari mulutnya, “Tidak! Tidak!”. Saat siuman, kami menceritakan hal tersebut kepadanya. Ia kemudian bercerita, “Datang dua setan di sebelah kanan dan kiriku. Salah satu berkata.”Matilah dalam keadaan Yahudi, karena Yahudi adalah agama yang baik.” Yang satunya berkata, “Matilah dalam keadaan Nasrani, karena Nasrani adalah agama yang terbaik.” Aku pun menjawab, “Tidak! Tidak!”.

Kelalaian merupakan bentuk serangan dari setan kepada manusia, agar mereka abai terhadap apa yang disyariatkan Allah. Namun, kita bisa menghindari sifat itu dengan obat kelalaian yaitu senantiasa menambah keimanan kita terhadap hari akhir. Untuk itu, kita harus mengetahui apa saja yang dapat meningkatkan keimanan kita terhadap hari akhir, di antaranya:

  • Senantiasa berzikir. Sesungguhnya zikir adalah ibadah yang paling mudah dilakukan.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

  • Mempelajari Al-Quran. Pada dasarnya manusia tidak mengetahui apa makna dari Al-Quran. Karena itu, Al-Quran perlu dikaji agar kita paham akan maknanya. Dengan mengerti makna Al-Quran kita mampu memahami gambaran peristiwa hari kiamat dengan kuat. In syaa Allah dengan mengetahui dahsyatnya gambaran pada hari kiamat, akan menjadikan kita semakin berhati-hati dalam berkatifitas dan menghindari sifat lalai.
  • Mempelajari hadits. Banyak sekali hadits yang menjelaskan tentang hari kiamat, di antaranya: “Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” (HR. Muslim)

Dengan mengetahui hadits, maka akan menambah keimaman terhadap hari kiamat dan menjaga agar kita senantiasa berhati-hati terdahap sifat lalai.

  • Memperhatikan alam sekitar.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imron: 190-191)

  • Mengingat kematian. Dikisahkan bahwa, Utsman bin Affan ketika membahas surga-neraka masih mampu mengendalikan diri. Namun ketika membahas alam kubur beliau tidak mampu membendung tangis. Karena sesungguhnya kita tidak tahu kapan akan berakhirnya kehidupan. Dengan selalu mengingat kematian, maka kita akan selalu berusaha maksimal dalam kebaikan.
  • Mepelajari hakikat dunia dan akhirat. “Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian. Dan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya dan berkhayal tinggi terhadap Allah (padahal ia mengabaikan perintah Allah).” (HR. Ahmad)
  • Membaca kisah. Dengan kisah kita mampu mengambil ibroh (pelajaran), menguatkan keimanan, petunjuk dan rahmat. Dikatakan dalam Al-Quran, “Sesunggunya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

In syaa Allah, dengan melakukan poin-poin tersebut diiringi keikhlasan dan mengharap berkah dan ridho dari Allah, maka akan meningkatkan keimanan kita terhadap hari akhir. Dengan mengetahuinya, semoga Mu’allim, para guru dan calon guru dapat menghindari sifat lalai, sehingga akan memaksimalkan interaksi dan transfer ruh ketika bertemu dengan murid-murid kelak. Aamiin.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _