For details about bluehers.com.Best knockoff watches.On The Online Website best luxury replica watches.Bonuses rolex replicas for sale amazon.Wiht 80% Discount https://www.montrerepliques.com/.pop over to this website https://cheapreplicawatch.net/.click for source fake richard mille.hop over to this site replica watches for sale in usa.redirected here the best replica watches in the world.next page www.gzwatches.com.my sources https://www.homeswatches.com/.pop over to this site quality replica watch.find more attorneywatches.check my source omega replica watches.discover this info here https://www.sextagheuer.com/.costly and then again, the copies are of less expense. franck mueller replica.click here to find out more richard mille replica.click this site https://www.petswatches.com/.Fast Delivery bell and ross replica watches.

Lalainya Orangtua, Sumber Kejahatan Luar Biasa

lalainya-orangtua-sumber-kejahatan-luar-biasa

Kejahatan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku, yang telah disahkan oleh hukum tertulis. Dalam dunia kriminal, kejahatan memiliki tingkatan, dan kasta tertinggi dari sebuah kejahatan dikenal sebagai extraordinary crime atau kejahatan luar biasa. Di Indonesia sendiri, yang termasuk dalam extraordinary crimes di UU Pengadilan HAM adalah pelanggaran HAM berat yang dibatasi pada dua bentuk, yaitu genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dalam perkembangannya, ada kejahatan lain yang dikategorikan sebagai extraordinary crime di Indonesia, yaitu kejahatan korupsi.

Selain kejahatan yang telah disebutkan di atas, ada kejahatan lain yang masuk kategori extraordinary crime, dan ada juga yang masih dalam perdebatan. Namun, ada satu kejahatan yang harusnya masuk kategori extraordinary crime, tetapi sama sekali belum dipertimbangkan sebagai extraordinary crime, bahkan dikategorikan sebagai kejahatan pun tidak. Kejahatan tersebut memiliki dampak yang tidak kalah mengerikan dari kejahatan dengan kategori extraordinary crime, bahkan boleh jadi itulah sumber segala kejahatan yang luar biasa. Dan kejahatan tersebut adalah kejahatan orangtua yang tidak mendidik anak-anaknya.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Barangsiapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama, berikut sunah-sunahnya. Para orangtua itu melalaikan mereka di waktu kecil, sehingga mereka tidak sanggup menjadi orang yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak memberi manfaat kepada orangtua mereka.”

Anak yang tidak mendapatkan sentuhan pendidikan yang baik dari orangtuanya, jangankan memberi manfaat kepada umat, memberi manfaat pada diri dan orangtua pun tidak. Konsekuensi lainnya dari hidup yang tidak bermanfaat adalah hidup yang penuh kemudharatan. Baik itu memberi mudharat pada diri sendiri, orangtua, ataupun umat.

Setiap orang memang bertanggung jawab atas dosanya masing-masing, sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam surat Al-Isra ayat 15, dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain…” Namun, ketika dosa tersebut karena pengaruh keburukan orangtua, atau dalam hal ini kelalaian orangtua dalam mendidik anak, maka setiap kejahatan yang anak lakukan, boleh jadi menjadi tanggung jawab orangtua juga.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya; apakah dia menjaganya atau melalaikannya, sampai meminta pertanggungjawaban terhadap seorang atas anggota keluarganya.” (An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

 

Bagaimana kelalaian orangtua berdampak pada kejahatan anak kelak?

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya. Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Hadits di atas sudah sangat masyhur; anak dilahirkan di atas fitrah Islam, bila kemudian menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi, maka itu atas peran kedua orangtuanya. Boleh jadi, yang dimaksud dalam hadits ini bukan secara leterlek menjadikan anak beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi. Tetapi menjadikan karakternya bagaikan orang Yahudi yang berilmu tapi tidak beramal, atau seorang Nasrani yang beramal tapi tidak berilmu.

Tidak adanya sentuhan pendidikan orangtua yang baik, berpotensi menjadikan karakter buruk tiga kelompok tersebut bisa mendarah daging pada seorang anak, meski ia tetap dalam keadaan muslim hingga akhir hayatnya. Dan semua itu terjadi bertahap. Sebagaimana kebaikan itu bertahap, maka keburukan pun bertahap.

Sebagai contoh, boleh jadi kasus korupsi yang sudah menggurita hari ini, disebabkan oleh kedua orangtua yang tidak peduli dengan kehalalan makanan yang dimakan anaknya, pakaian yang dikenakan, atau bahkan mainan yang dimainkan. Diamnya orangtua atas kemungkaran anak (yang walaupun belum berdosa), boleh jadi menimbulkan persepsi dalam benak anak, bahwa tidak ada yang salah ketika ada hak orang lain yang diambilnya. Abainya orangtua untuk meluruskan kesalahan anak, akan membuat sang anak menganggap benar dan menganggap remeh kesalahannya tersebut.

Diriwayatkan oleh Al-Jahizh bahwa ‘Uqbah bin Abi Sufyan tatkala mengantarkan anaknya kepada seorang guru, ia berkata, “Hendaklah engkau memulai dalam mendidik anakku nanti dengan memperbaiki pribadimu, karena sesungguhnya mata mereka (anak didik) itu terikat dengan matamu, kebaikan menurut mereka adalah yang menurutmu baik, dan keburukan menurut mereka adalah yang menurutmu buruk…

Sikap orangtua yang abai pada kesalahan anaknya, sangat bertentangan dengan Rasulullah yang merupakan puncak keteladanan dalam dunia pendidikan. Meski Rasulullah sangat toleran pada segala tingkah laku anak yang sesuai fitrah atau alamiahnya, seperti; lembut pada anak yang kencing ketika beliau gendong, pengertian terhadap tangis anak sehingga mempercepat shalatnya, atau memperpanjang sujudnya karena ada anak yang sedang bermain dipunggungnya. Tetapi ketika kesalahan yang dilakukan dan perlu diluruskan, Rasulullah tidak tinggal diam.

Sebagai contoh, suatu hari cucu Rasulullah, Al-Hasan bin Ali mengambil sebutir kurma sedekah dan memasukkannya ke mulutnya. Rasulullah yang melihat hal tersebut tidak tinggal diam, beliau mengejar Al-Hasan yang lari kesana kemari, menyuruhnya untuk mengeluarkan kurma sedekah di mulutnya, bahkan sampai memasukan jari untuk memastikan bahwa kurma tersebut dikeluarkan. Meski dilakukan oleh anak yang tidak akan terbebani dosa, meski hanya sebutir kurma, meski tidak ada nada orang yang keberatan, meski itu semua oleh kita dianggap wajar, Rasulullah tetap tegas dalam meluruskan kesalahan.

Dilain kesempatan, Abdullah bin Busr Al-Mazini pernah dijewer oleh Rasulullah, ketika ibunya mengirim anggur untuk Rasulullah melalui dirinya, namun dalam perjalanan Abdullah memakannya sebagian. Rasulullah menjewernya seraya mengatakan, “Hai Ghudar (koruptor).”

Begitulah Rasulullah meluruskan kesalahan. Setiap kesalahan diluruskan dengan pendidikan, sehingga melalui dua contoh yang dikemukakan akan tertanamkan nilai bahwa, halal harus dipastikan dan amanah harus ditunaikan. Andai nilai ini yang tumbuh pada setiap generasi, korupsi tidak akan ada di muka bumi. Karena itu, sekali lagi, orangtua yang tidak mendidik anak-anaknya atau lalai akan kewajibannya, maka sejatinya ia telah melakukan kejahatan luar biasa; kejahatan yang menjadi sumber kejahatan lainnya.

Al-Ghazali berkata, “Anak kecil apabila dilalaikan pada awal pertumbuhannya, biasanya dia akan tumbuh dengan memiliki akhlak yang buruk: suka berdusta, pendengki, suka mencuri, mengadu domba, suka mencampuri urusan orang lain, suka melecehkan orang lain dan suka menipu. Semua itu bisa dihindari dengan pendidikan yang baik.”

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _