Maafkan Ketidaksopanan Kami, Wahai Guru

maafkan-ketidaksopanan-kami-wahai-guru

Beberapa waktu lalu kita sering mendengar berita yang viral tentang beberapa nasib seorang guru.

Ada yang tinggal dekat kloset sekolah, ada yang akhirnya diminta berkeliling dengan merangkak oleh seorang wali siswa/i, ada yang wali siswa/i yang akhirnya melabrak salah seorang guru lantaran tidak terima anaknya dihukum, dan sebagainya.

Di negeri ini hampir-hampir guru tidak dianggap sebagai guru, yang mana Islam sangat memuliakan mereka. Sungguh sedih dan malangnya nasib bangsa yang tak kunjung memuliakan siapa yang dimuliakan oleh Islam.

Mari kita tengok kedudukan guru dalam Al-Qur’an. Supaya kita mengerti dan paham dan akhirnya dapat memikirkan, “Pantaskah guru direndahkan?”

Mari kita tengok mula-mula di surah Al-Baqarah, surah Madaniyyah ini mempunyai beberapa kisah-kisah di awal surahnya. Diantaranya kisah Nabi Adam dengan Iblis. Mari kita lihat firman Allah mulai ayat 30 – 32. Ayat tersebut dimulai dari Kisah Allah menciptakan Adam dan keheranan para malaikat pada Allah. Namun Allah membantah bahwa sungguh Allah mengetahui apa yang tidak kamu (para malaikat) ketahui. Benar saja, Allah kemudian menyuruh Adam untuk menyebutkan nama-nama seluruhnya kemudian diperlihatkan kehebatan itu kepada malaikat. Dan Allah meminta malaikat untuk menyebutkan beberapa benda yang lain ternyata malaikat tidak mampu menyebutkannya dan merendahkan diri di hadapan Allah dengan mengatakan pada ayat 32-nya :

قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Ternyata Allah menyuruh Adam lagi untuk menyebutkan apa yang tidak diketahui oleh para malaikat tadi. Ketika Adam menyebutkan apa yang tidak bisa mereka (para malaikat) sebutkan, Allah berfirman :

أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Ayat ini menujukkan kehebatan Allah kepada para malaikat sehingga mereka (para malaikat) mengaku bahwa apa yang telah mereka sangkakan sebelumnya merupakan kesalahan besar dan bertambah tunduk dan patuhlah mereka (para malaikat) kepada Allah.

Apa yang mereka (para malaikat) akui akhirnya terwujud ketika Allah memerintahkan mereka semua sujud kepada Adam atas kemuliaannya dengan ilmu yang telah Allah ajarkan kepada Adam. Pada ayat 34 semua malaikat sujud tanpa terkecuali. Namun iblis, ia menyombongkan diri dan akhirnya di Surah Al-A’raf ayat 13 ia (iblis) terusir dari surga.

Para pembaca yang budiman, tahukah kita derajat ahli ilmu di ayat ini? Ya kita ketahui derajat mereka dari apa yang Allah perintahkan kepada malaikat yakni sujud kepada Adam karena keilmuan yang ia alaihissalam miliki dari Allah ta’ala. Ya itulah harusnya sikap penuntut ilmu kepada ahli ilmu. Mereka harus menunduk patuh dan penuh penghormatan kepada ahli ilmu.

Mereka (penuntut ilmu) tidak boleh sombong di depan mereka (ahli ilmu). Bahkan bila para penutut ilmu memaksakan diri mereka untuk sombong di depan ahli ilmu seakan mereka (penuntut ilmu) pantas dikeluarkan dari majlis belajarnya sebagaimana Iblis dikeluarkan dari tempat mulia (surga).

Tidak, ini tidak berlebihan. Inilah yang Allah ajarkan kepada kita bahwa ahli ilmu mempunyai derajat tinggi di hadapan Allah sehingga tidak pantas para penuntut ilmu itu menyombongkan diri mereka di depan para ahli ilmu. Sehingga sangatlah tidak pantas para ahli ilmu direndahkan.

Ketahuilah para pembaca yang budiman, ayat yang berbicara tentang keutamaan ahli ilmu tidaklah sedikit. Mereka bertebaran di dalam Al-Qur’an. Bahkan ulamapun menulis dengan tinta mulia mereka tentang kemuliaan-kemuliaan para ahli ilmu dan kewajiban-kewajiban penuntut ilmu dihadapan ahli ilmu. Kitab karya Imam Az-Zarnuji rahimahullah, Ta’lim Muta’allim adalah satu dari ribuan kitab adab lainnya.

Sebagai penutup, izinkan penulis menuliskan kaidah ulama yang berbunyi :

منْ لا يُكرمِ العلمَ لا يُكرمْهُ العلمُ

“Barang siapa yang tidak memuliakan ilmu maka ilmu takkan memuliakan dia”

Dan diantara memuliakan ilmu seperti yang dikatakan Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’alim-nya adalah dengan memuliakan ahli ilmu.

“Wahai guru, mohon maafkan ketidaksopanan kami terhadapmu. Semoga Allah menjagamu dan senantiasa mencintaimu serta keluargamu. Salam sayang penuh takzim dari murid-muridmu”

Hamba Allah
AGA 5

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*