For details about bluehers.com.Best knockoff watches.On The Online Website best luxury replica watches.Bonuses rolex replicas for sale amazon.Wiht 80% Discount https://www.montrerepliques.com/.pop over to this website https://cheapreplicawatch.net/.click for source fake richard mille.hop over to this site replica watches for sale in usa.redirected here the best replica watches in the world.next page www.gzwatches.com.my sources https://www.homeswatches.com/.pop over to this site quality replica watch.find more attorneywatches.check my source omega replica watches.discover this info here https://www.sextagheuer.com/.costly and then again, the copies are of less expense. franck mueller replica.click here to find out more richard mille replica.click this site https://www.petswatches.com/.Fast Delivery bell and ross replica watches.

Memetik Pelajaran dari Kelahiran Penghulu Keteladanan 

memetik-pelajaran-dari-kelahiran-penghulu-keteladanan

Nabi Muhammad lahir pada tahun Gajah, tahun dimana terjadi peristiwa besar di tanah suci Makkah. Pada peristiwa tersebut Allah menggagalkan rencana Abrahah dan pasukan bergajahnya yang hendak menghancurkan Ka’bah, mereka dikalahkan oleh para tentara Allah berupa segerombolan burung Ababil. Peristiwa ini otomatis mengangkat derajat orang-orang Quraisy selaku penduduk Makkah dan memperkokoh kedudukan mereka di mata orang-orang Arab lainnya. 

Namun, sebenarnya ada peristiwa lain yang lebih besar dan lebih agung di tahun tersebut. Peristiwa itu tidak lain adalah kelahiran Nabi Muhammad itu sendiri. Kelahiran seorang yang kelak akan menjadi pemimpin dunia yang memperbaiki bumi setelah rusaknya. Kelahiran seorang yang pengaruhnya tetap diakui setelah 14 abad berlalu, bahkan oleh mereka yang tidak mengimaninya. Kelahiran seorang yang keteladanannya tak lekang oleh zaman. 

Dari peristiwa besar ini, ada pelajaran besar yang patut kita ambil sebagai bekal dalam mengikuti kebesaran Nabi Muhammad. Setelah kelahiran Nabi Muhammad, ibunda beliau, Aminah menuturkan sebuah kisah, “Setelah bayiku keluar, aku melihat ada cahaya yang keluar dari diriku, menyinari istana-istana di Syam.” 

Munculnya cahaya yang mengiringi kelahiran beliau tentu harusnya menjadi inspirasi besar untuk kita, dimana kelahiran generasi seharusnya tidak kita pandang sebagai kelahiran sesosok manusia saja, tapi juga harus kita pandang dengan menyertakan visi besar kelahiran mereka. Yakni kelahiran generasi cahaya yang akan menyinari gelapnya dunia. 

Keberadaan visi, tentu sangat berpengaruh besar terhadap kualitas generasi. Tanpa keberadaannya, kelahiran generasi hanya akan berarti bertambahnya populasi orang-orang yang tak tahu tujuan penciptaannya, mereka dibesarkan tak ubahnya seperti makhluk lain membesarkan anak-anaknya; hanya memberi makan dan melindungi secara lahir, hingga meraka bisa mencari makan dan melindungi diri secara mandiri. 

Padahal kita manusia, makhluk mulia, yang diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya; diciptakan sebagai khalifah di bumi dan bertugas untuk memakmurkannya, agar kita menjadi rahmat untuk seluruh alam. Inilah hakikat dan tugas generasi cahaya. 

Selain itu, kalau kita melihat bisharah (kabar gembira) dari Rasulullah yang belum terwujud, maka masih ada fase zaman khilafah ala minhaji nubuwah dan pembukaan Kota Roma yang belum jadi kenyataan. Maka seharusnya ini kita jadikan visi generasi di abad ini. 

Selain proses kelahiran Rasulullah yang diiringi cahaya, ada peristiwa sejarah lain yang patut kiranya kita renungi, dan peristiwa itu adalah sejarah pemberian nama Rasulullah dengan nama Muhammad. Ketika Abdul Muthalib dikabari tentang kelahiran cucunya, ia datang dengan suka cita, dibawanya Muhammad bayi ke Ka’bah. Disana sang kakek berdo’a dan bersyukur kepada Allah Ta’ala, lalu ia memberi cucunya nama Mahammad. 

Ketika masyarakat bertanya tentang alasan pemberian nama Muhammad, karena nama tersebut bukan nama yang dikenal dan juga bukan nama nenek moyang mereka, maka Abdul Muthalib menjawab, “Saya berharap penduduk bumi memujinya dan penduduk langit pun memujinya.” 

Sejarah pemberian nama Rasulullah di atas, mengajak kita untuk memetik pelajaran besar berikutnya, yaitu tentang pentingnya pemberian nama. Hari ini, banyak orangtua yang menganggap makin sulit dieja dan diingat sebuah nama, maka akan semakin keren nama tersebut. Mereka menamai bayi atau anak dengan nama paling kreatif, unik, panjang, dan sulit disebut. Dan ini menjadi tren di masyarakat kita hari ini. 

Dari sejarah pemberian nama Rasulullah, harusnya kita belajar, bahwa harusnya kita tidak berhenti di “keren dan bagusnya” sebuah nama. Tapi kita juga harus memperhatikan arti dari nama tersebut, memiliki arti yang baikkah, atau malah sebaliknya? 

Dalam buku Fikih Sirah Nabawiyah, Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid mengutip perkataan Abdul Rahman As-Shaqalli, dia mengatakan: “Setiap manusia mendapatkan jatah kebaikan dari namanya, hal ini berlaku dalam alam manusia, dan begitu juga dalam alam lainnya.” Untuk itu, maka perhatikanlah nama anak-anak kita. 

Lebih jauh dari itu, kita jangan berhenti di arti sebuah nama yang baik, tapi juga harus memiliki cita-cita dibalik nama tersebut. Sebagaimana Abdul Muthalib yang berharap cucunya menjadi orang yang terpuji di langit dan bumi, pun harusnya kita memiliki cita-cita atas pemberian nama anak-anak kita. Dan inilah yang diamalkan oleh para sahabat Rasulullah, dimana mereka selalu menitipkan harapan pada nama anak-anak mereka. Zubair bin Awwam pernah berkata, 

“Thalhah bin Ubaidillah at-Tamimi memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama para nabi, padahal dia tahu bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad. Sementara aku memberi nama anak-anakku dengan nama-nama para sahabat yang mati syahid, dengan harapan semoga mereka juga mati syahid.” 

Dua pelajaran dari dua peristiwa besar ini harusnya menjadi nasehat dan pelajaran berharga bagi kita. Dua peristiwa tersebut mengingatkan kita akan pentingnya sebuah visi dan cita-cita, dimana keduanya harus selalu kita tanamkan pada setiap kelahiran generasi penerus. Dan itu harus selalu kita jaga serta sirami agar visi dan cita-citanya semakin kokoh dan mengakar. Sebab, akarlah yang menentukan kualitas sebuah pohon dan buahnya, pun demikian dengan kita, manusia.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _