Menjadi Orang Tua Peradaban

menjadi-orang-tua-peradaban

Pentingnya Membangun Visi dan Misi

Bagiku yang pernah berkutat di beberapa perusahaan selama sekitar 7 tahun lamanya, maka rumah tangga itu ibarat institusi perusahaan.

Setiap perusahaan pasti memiliki visi dan misi dalam menjalankan usahanya, bukan?

Setiap perusahaan pasti akan memajang slogan visi misi beserta profilnya di dinding lobi. Betapa sangat penting visi misi untuk mewujudkan keberhasilan.

Seharusnya begitu juga dengan rumah tangga muslim. Institusi rumah tangga ini lebih berharga karena dari dalamnya akan terlahir sebuah generasi.

Kuat atau lemahnya generasi tentu tergantung bagaimana setiap peran orang tua dalam menjalankan tugasnya masing-masing.

Kuat atau lemahnya rumah tangga tergantung pasangan suami istri menggenggam erat visi misi tersebut.

Jangan sampai keluarga muslim tidak memiliki visi misi dalam menjalankan rumah tangganya. Bukankah pernikahan adalah separuh dari agama? Bukankah pernikahan adalah ibadah terlama? Jadi sangat disayangkan jika pernikahan tak memiliki tujuan.

Sebuah visi misi yang dibangun oleh sebuah rumah tangga muslim seharusnya juga berdasarkan wahyu. Karna Allah menciptakan manusia berpasangan lalu menikahkan bukan kesia-siaan tanpa tujuan. Bukan hanya sekedar pernikahan biasa, namun untuk melahirkan generasi peradaban.

Allah sudah memberikan petunjuk dalam membangun visi dan misi dalam rumah tangga muslim. Seperti yang termaktub dalam Al-Quran surah at-Tahrim: 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Arti: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Surah ath-Thur: 21

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”

Surah al-Furqan: 74

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”

Mari kita ambil pelajaran dari tiga surat tersebut.

  1. Surah at-Tahrim: 6

Allah memberikan perintah yang sangat tegas agar kita menjaga diri dan keluarga agar tak menjadi bahan baku api neraka. Betapa petunjuk wahyu dalam pernikahan ini sangat berharga. Namun, hal ini sering kali terlewat oleh sebagian keluarga muslim. Sering kali di lapangan, ketika penulis menanyakan apa visi misi berumah tangga, jawabannya tidak ada. Padahal Allah sudah memberikan petunjuk. Dari ayat ini ada tugas besar, khususnya bagi para kepala keluarga. Apakah aktivitasnya sudah menghindarkan diri dari api neraka? Terutama dalam hal mencari nafkah. Jangan sampai para ayah atau suami memberikan harta haram kepada anak dan istri di rumah.

Wahai para Suami, wahai para Ayah. Renungilah hadis Nabi ini !

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdabda :

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحتٍ إلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَولَى بِهِ

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali neraka lebih utama atasnya.” [HR. Tirmidzi]

Hadis ini memberikan pengajaran, betapa pentingnya mencari harta yang halal. Karna jelas kata Nabi daging manusia yang tumbuh dari harta haram maka hanya neraka yang pantas untuknya.

Kita lihat bagaimana Rasulullah Shalallahu’ alaihi wassalam menjaga keluarganya agar tidak melakukan kesalahan yang menjerumuskan ke dalam api neraka. Walaupun kesalahan itu dilakukan oleh anak kecil.

Dari Abu Hurairah berkata: Hasan bin Ali mengambil sebutir kurma dari kurma shadaqah. Kurma itu dimasukkan ke dalam mulutnya. Nabi berkata : hekh… hekh… (perintah agar Hasan membuangnya dari mulutnya), tidakkah kamu tahu kalau kita tak boleh memakan harta shadaqah? (HR. Bukhari no. 1396 dan Muslim no. 1778)

Dalam Musnad Ahmad no. 18278 dan 8899 diperjelas bahwa Rasulullah melakukan tindakan-tindakan agar kurma itu benar-benar keluar dari mulut mungil sang cucu. Hingga benar-benar keluar dan dibuang.

(Budi Ashari, Inspirasi Rumah Cahaya, cetakan ke-3 2013. Hal 14)

Dari kisah tersebut. Melihat kesungguhan Rasulullah untuk mengeluarkan makanan haram dari mulut cucunya yang berusia balita, sungguh semoga bisa menyadarkan diri kita sebagai orang tua. Meski anak masih usia belia, namun tiada toleransi untuk keharaman. Jadi kita tidak boleh berdalih “tidak mengapa, wajar dia masih kecil”

Tentu, menjaga diri dan keluarga dari api neraka ini bukan hanya tugas suami. Istri pun harus ikut berperan. Agar terjalin kerjasama yang baik dalam mendidik anak-anak.

Menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah dengan menjauhkan segala apapun itu dari hal yang diharamkan Allah seperti bermaksiat, riba, dan lain sebagainya.

Menjaga diri dan keluarga adalah dengan menjalani ketaatan pada-Nya

Ya, jika ingin terhindar dari api neraka, maka jalanilah taat dan jauhilah maksiat!

Inilah visi terbesar yang harus dimiliki oleh keluarga muslim..

  1. Surah ath-Thur: 21

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang karunia dan pemberian-Nya kepada makhluk-Nya, juga kebaikan-Nya, bahwa orang-orang mukmin itu apabila anak cucu mereka mengikuti mereka dalam hal keimanan, maka anak cucu mereka itu akan diikutkan kepada mereka dalam kedudukan yang sama, sekalipun anak cucu mereka masih belum mencapai tingkatan amal mereka.

Demikian itu agar hati dan pandangan para ayah merasa sejuk dengan berkumpulnya mereka bersama anak-anak mereka, sehingga mereka dapat bergabung bersama-sama dalam keadaan yang sebaik-baiknya dari segala segi.

(Tafsir Ibnu Katsir)

Masya Allah, masuk surga sekeluarga ini lah visi sebenarnya. Bukan hanya kesuksesan dunia saja yang menjadi tujuan.

Betapa Wahyu inilah pedoman sesungguhnya untuk kita para orang tua.

Ayat ini menjelaskan tentang orang tua yang memiliki keimanan dan kesholihan yang luar biasa hingga ia mendapat posisi tertinggi di sisi Allah yaitu di surga tertinggi. Dan untuk menyempurnakan kenikmatan-Nya, Allah akan mengumpulkan dia dengan anak cucu keturunannya yang mengikuti jejaknyadalam keimanan, meskipun anak cucunya tidak mencapai derajat amalan sebagaimana orang tuanya.

Maka kita sebagai orang tua lah yang seharusnya memiliki kesholihan dan keimanan untuk menjadi teladan, dan ditanamkan kepada anak-anak.

Keimanan memang tidak dapat diwariskan namun dapat diajarkan dan ditanamkan dengan keteladanan dan kesholihan.

Hal ini bisa kita dialogkan kepada anak-anak atau pasangan kita setiap hari di setiap momen apa saja.

Katakan, “Ayo kita beramal Sholih bersama agar masuk surga sekeluarga.”

 “Nak, taatlah kepada Allah agar kelak kita ke surga sekeluarga.”

  1. Surah al-Furqan: 74

Ayat ini merupakan sebuah doa yang tak asing atau bahkan sering kita senandung kan

 “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”

Jika kita tadaburi, doa ini membahas dua hal.

Pertama, Sebagai sepasang suami istri atau sebagai orang tua, tentunya kita bercita-cita memiliki anak-anak yang menyejukkan pandangan (menyenangkan hati). Namun, ternyata doa ini menyebutkan kata pasangan terlebih dahulu dibanding keturunan. Itu artinya, betapa pentingnya memiliki pasangan yang menyejukkan pandangan terlebih dahulu. Maka, sudah seyogyanya pasangan suami istri berbenah untuk menshalihkan diri.

Jika menginginkan keturunan yang Sholih, maka orang tua harus menshalihkan diri terlebih dahulu.

Kedua, di dalam doa ini ada cita-cita yaitu menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Sungguh ini adalah harapan besar yang dimiliki keluarga muslim. Melahirkan pemimpin yang istimewa. Pemimpin yang bukan hanya sekedar pemimpin, namun ia memimpin masyarakat yang bertakwa kepada Allah. Masyarakat yang bertakwa terlahir dari rumah tangga yang juga bertakwa.

Jadi, Pemimpin yang bertakwa dilahirkan dari rumah yang sudah berhasil membimbing keluarganya menjadi keluarga yang bervisi surga.

Sudahkan visi ini menjadi target dan tujuan kita?..

Ringkasan dari ketiga ayat diatas, maka visi dan misi keluarga muslim adalah:

Menjauhkan diri dan keluarga dari api neraka

Masuk surga sekeluarga

Menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

Inilah visi terbesar kita yang seharusnya dimiliki oleh keluarga muslim untuk di dunia dan di akhirat.

Berumah tangga bukan hanya sekedar mencapai kesuksesan dunia saja,namun hingga ke surga.

Untuk mewujudkan visi misi ini di setiap keluarga muslim, ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Yaitu:

  1. Sadar

Keluarga muslim yang masih tertidur dalam balutan kejahiliyahan mustahil bisa mewujudkan visi misi ini. Maka, dibutuhkan kesadaran bahwa menikah memiliki tujuan yang bukan hanya sekedar duniawi saja yang harus kita kejar namun juga akhirat. Maka untuk membangun kesadaran, kita harus yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian dan segala sesuatu juga akan dipertanggungjawabkan.

  1. Berfikir

Kita harus berfikir apa yang kita cari dari sebuah ikatan pernikahan? Apakah hanya untuk menumpuk kekayaan? Apakah hanya untuk mendapat keturunan?ataukah kebahagiaan?

Bagi kepala keluarga yang setiap hari berlelah lelah mencari nafkah untuk anak istri berangkat pagi pulang sore hari kadang tak pulang lagi. maka coba fikirkan apa yang sebenarnya sedang dituju? Apakah kebahagian? Bukankah Allah sudah menjanjikan kebahagian yang haqiqi berada dalam surganya? Jika memang yang dituju adalah kebahagiaan namun diri tidak tergerak untuk merealisasikan kebahagiaan yang Allah janjikan, hati-hati bisa jadi keluarga kita akan terjerumus

salam kesengsaraan yang abadi.

Ketika kita berfikir bahwa apa yang sudah kita lakukan untuk keluarga ini tidak ada yang bermanfaat kecuali untuk menjadikan diri dan keluarga semakin taat kepada Allah.

Maka, kita perlu berhenti sejenak untuk berfikir apa yang kita cari dari sebuah pernikahan ? Apa yang sudah kita dapatkan dari pernikahan ini? Apakah sudah mendekatkan pada ketakwaan atau justru semakin jauh dari ketaatan? Berfikir ini perlu dilakukan agar visi dan misi ini terealisasikan.

  1. Bashirah

Melihat segala sesuatu dengan mata hati kita bukan hanya dengan mata kepala agar muncul keimanan dalam hati.

Sebagai contoh, suami telah memberikan nafkah yang halal. Maka sebagai istri pandanglah nafkah suami dengan mata hati. Bahwa sedikit banyaknya nafkah yang diberikan itulah rezeki dari Allah sehingga akan hadir dalam hati yaitu rasa qanaah atas pemberian suami. Bukan melihat nominal besaran nafkah yang diberikan sehingga menjadikan diri tidak bersyukur atas pemberian suami.

  1. Bertekad

Sebesar kesadaran kita akan tujuan mencapai visi keluarga muslim maka sebesar itu pula tekad yang akan muncul dari dalam diri kita untuk merealisasikan. Sebesar kepahaman kita tentang tujuan akhir keluarga kita, sebesar itu pula tekad yang akan hadir untuk kita bersegera menuju Allah agar keluarga kita mendapatkan naungan dan ridho dari-Nya.

Mari bulatkan tekad kita, bahwa hidup berumah tangga harus bahagia sampai ke surga. Kita bulatkan tekad kita agar sekeluarga memiliki visi keluarga yang sama begitu juga dengan anak cucu kita.

Buat seluruh keluarga muslim. Apakah Anda semua sudah membuat visi dan misi keluarga? Jika belum, mari Azzamkan bersama pasangan, lalu dawamkan bersama-sama mencapainya.

Buat teman-teman yang masih singel lillah. Apakah sudah memiliki visi ini untuk berumah tangga? Jika ya.. maka temukanlah pasangan yang memiliki visi yang sama. Lalu realisasikan bersama.

Semoga Allah mudahkan langkah kita bersama untuk mewujudkan visi misi kita sebagai keluarga muslim.

Ya Allah bimbinglah kami…

 

Oleh: Febriyana (AGA 4)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*