Oase di Bukit yang Diberkahi

oase-di-bukit-yang-diberkahi

Biasanya saya dan beberapa teman akhwat pulang kuliah meminta bantuan saik (supir)
Kuttab. Namun, ada yang berbeda pekan ini, qodarullah suami saya libur dan menawarkan diri untuk menjemput saya. Dan kami sepakat ikut bersama beliau, alhamdulillah.

Sepanjang perjalanan kami (saya dan teman akhwat) bercengkrama membicarakan
kegiatan yang kami lalui di kelas, sampai akhirnya kami berpisah di tempat tujuan dan saling
mendoakan.

Sesampainya di rumah, suami saya mengatakan, “Bu, seperti menemukan OASE di gurun
pasir yang gersang.”

Saya belum paham apa yang beliau maksud. Beliau menjelaskan kepada saya apa yang dialaminya pada saat menunggu saya keluar kelas.

Suami  : “Saat di masjid, saya menemukan pemandangan yang sejuk,” saya pikir, mungkin beliau melihat gunung, puncak atau pepohonan. Beliau melanjutkan, “ada beberapa orang berhalaqoh diskusi,”

Akhirnya saya paham, itu kelompok mahasantri yang sedang berkisah dan diskusi ilmu.

Suami  : “Diskusi yang saya tangkap adalah salah satu mahasantri berkata, “Saya bertaubat kepada Allah, kurang maksimal persiapan dalam menuntut ilmu, sehingga imbasnya saya mengantuk sekali pada saat jam pelajaran tadi (berpengaruh kepada adab menuntut ilmu). Padahal guru kita sudah menasehati untuk mempersiapkan dari sejak malamnya dipersiapkan hatinya, doanya, mentalnya, agar esok hari ketika hadir di majelis ilmu, Allah memberikan keberkahannya”.

Suami  : “Dan saat di mobil itu, Bu, saya menemukan OASE, dimana yang saya dengar hanya
kalimat “masyaAllah, alhamdulillah, insyaallah” dan kalimat-kalimat yang mengagungkan
nama Allah. Sebenarnya kalimat ini bukan hal yang asing di telinga, tapi jauh berbanding
terbalik ketika berada di lingkungan kerja yang berada di sebuah daerah yang cuacanya panas,
dan mungkin juga mempengaruhi karakter orang-orang yang tinggal disana. Perkataan kotor,
bahasa kasar, kata-kata binatang, itu menjadi hal yang biasa, walaupun tidak semuanya tetapi
mayoritas seperti itu. Ya Allah jangan sampai terbawa.” sambil bergumam, beliau menutup
ceritanya.

Mendengar cerita beliau, saya berdoa dalam hati, ya Allah jangan sampai terbawa lingkungan yang tidak baik.

Ini kesan yang sangat membekas di hati suami saya. Betapa keberkahan di lingkungan
yang terberkahi membuat beliau merasa seperti menemukan OASE, yang biasanya beliau
dengar adalah perkataan kasar ditempat kerja. Kenyamanan ini dapat dirasakan, berkahnya dapat
dirasakan. Semoga bisa terimbas kepada kami sekeluarga terutama para ustadz dan orang-orang
yang mendirikan Kuttab dialiri keberkahan. Tempat yang Allah berkahi karena tanah ini adalah
tanah wakaf, ditambah pula dengan aktivitas belajar yang mendapatkan jaminan ketenangan dari
Allah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam hadits berikut:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya, “Apakah taman syurga
itu?” Beliau menjawab, “Halaqoh dzikir (majelis ilmu).” (HR. At-Tirmidzi)

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa‟id radhiyallahu ‘anhuma, mereka berdua berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir
(mengingat) Allah, melainkan mereka di kelilingi oleh para malaikat, diliputi oleh rahmat,
diturunkan sakinah (ketenangan), dan mereka disebut oleh Allah di hadapan malaikat yang ada
di sisi-Nya.‟” (HR. Muslim)

Padahal beliau hanya sebentar menunggu di masjid. Apalagi kami (mahasantri) yang
setiap pekan menghabiskan waktu dari pagi sampai sore. Kenyamanan dan kedamaian itu
membuat kami rindu bertemu di hari Sabtu. Rindu bertemu teman-teman seperjuangan, saling
menyemangati, saling berbagi kekaguman, rindu tilawah bersama membuka pagi yang sejuk,
rindu dengan ahli ilmu, dosen-dosen yang tulus, rindu dengan ilmu dan nasehat yang Allah
berikan melalui guru-guru kami yang ketulusannya dapat kami rasakan, karena kekuatan iman
dan ketawadhuannya, yang senantiasa melangitkan doa-doa untuk kami, yang tanpa lelah
mengulang nasehat walau kami sering abai dan lalai, yang senantiasa menyalahkan diri sendiri
padahal kesalahan itu bersumber dari kami.

Untuk para guru, untuk official yang selalu mengingatkan dan memberi info, untuk para dermawan semoga Allah menjaga dan melindungi selalu. Nuhibbukum fillah.

 

Fathanah Irmatyas Mahasantri AGA 2

Bandung, 13 Februari 2021

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _