PARADIGMA DAN BEKAL MENJADI PENDIDIK

paradigma-dan-bekal-menjadi-pendidik

AKADEMI GURU AL FATIH | Dewasa ini ada sebuah pergeseran nilai mengenai eksistensi guru dalam kehidupan masyarakat, yang mana sebagian besar masyarakat kita mungkin menganggap bahwa menjadi seorang guru adalah sebuah profesi, dan ketika kita menelaah makna profesi dengan kaca mata lingkup masyarakat yang jauh dari kehidupan islam saat ini, tentu arah tujuannya adalah sebatas pada perkara duniawi.

Betapa rugi jika seandainya ada orang-orang yang berfikir demikian, menjadikan aktivitas mengajar sebagai salah satu wasilah dalam meraih persoalan dunia pada umumnya.

Tanggal 11 Januari 2019 saya mulai berusaha mengubah cara pandang saya, lewat Akademi Guru Al Fatih yang dimulai pada pertemuan Stadium General. Banyak hal luar biasa yang saya dapat, sebelum pada akhirnya mendapatkan begitu banyak ilmu selama belajar di Akademi Guru Al Fatih.

Bahwa untuk menjadi seorang guru salah satu prinsip utama yang harus dimiliki adalah keimanan. Sebab dalam proses mengajar, tidak hanya peran untuk menstransfer ilmu yang diperlukan, namun prinsip dasar yang selayaknya dimiliki adalah bahwa mengajar merupakan salah satu bagian dari beramal sholih, hal ini tentu berkaitan erat dengan menanamkan nilai-nilai keimanan, bayangkan jika seandainya proses mendidik tidak disertai dengan menanamkan nilai-nilai keimanan,tentu hasil yang kita dapat bisa jadi jauh dari yang kita harapakan. Itulah sebabnya, keimanan bagi seorang pendidik sangatlah penting dalam menunjang proses pendidikan,sebab tidak hanya ilmu,namun transfer Ruh juga memiliki peran yang sangat besar.

Menjadi seorang guru harus mempunyai keimanan yang kokoh, sebab menjadi guru tidak hanya menjadi figur dalam menyampaikan ilmu, guru juga memiliki peran dalam memberikan keteladanan. Adalah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam seorang pemipin, guru, sekaligus suri tauladan bagi umat untuk berkaca tentang persoalan bagaimana seharusnya menjadi pribadi yang baik sebagai pemimpin umat, guru bagi para sahabat dan kita semua dalam melaksanakan amanah besar sebagai penduduk bumi. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam Q.S Al-Ahzab : 21

Yang artinya : “Sungguh telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah

Menjadi seorang guru adalah amanah besar sekaligus perbuatan mulia ketika kita menyandarkan niat dalam mendidik semata-mata karena Allah ta’ala.

Selain pentingnya untuk membekali diri dengan keimanan, seorang guru juga di tuntut untuk membekali dirinya dengan ilmu. Seorang guru dituntut untuk senantiasa mengembangkan diri dengan ilmu, sebab menyampaikan pemahaman tanpa ada ilmu di dalamnya, justru dikahwatirkan akan menjerumuskan pada kebathilan.
Dan juga yang tidak kalah penting adalah, seorang guru diharapakan senantiasa mampu mendoakan santri-santri nya, hal ini sebagaimana pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam yang mendo’akan Ibnu Abbas di saat ia masih kecil sambil mendekapnya beliau berdoa,

“Ya Allah, ajarilah dia hikmah.” (H.R Bukhori)
“Ya Allah ajarilah dia Al-Qur’an.” (H.R Bukhori)
“Ya Allah pandaikan dia dalam masalah agama.” (H.R Muslim dan Bukhori)

Bermodal keyakinan, Berharap kebesaran sudah selayaknya prinsip ini kita sematkan dalam hati kita ketika mendidik santri-santri dan putra-putri kita.

Keyakinan akan janji Allah terhadap kemenangan islam,yang kita harapakan kemenangan itu akan muncul dari benih-benih yang kita tanam.
Insyaa Allah…

Oleh: Nevi Tri Wahyuni
Mahasiswi AGA5

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*