Pendidikan Istana

pendidikan-istana

Kuttab dan Istana

Pada awalnya, pendidikan dasar umat muslim yang lazim dikenal dengan Kuttab hanya mengajarkan membaca dan menulis. Namun seiring waktu berjalan, pelajaran Al-Qur’an juga dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran di Kuttab.

Menurut Ahmad Syalabi, salah satu sebab permulaan pendidikan Al-Qur’an untuk pendidikan dasar, dimulai dari pendidikan di lingkungan Istana Kekhalifahan. Di awali oleh seseorang pengajar anak-anak bernama Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang merupakan pengajar bagi anak-anak para pembesar di kalangan Istana.

Barulah kemudian metode pengajaran Hajjaj bin Yusuf ini diduplikasi oleh para pengajar di rumah-rumah masyarakat yang selama ini digunakan sebagai Kataatib atau Kuttab.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang melekat pada sosok Hajjaj bin Yusuf, beliau memiliki jasa yang besar terhadap dunia pendidikan dasar ini. Beliau merupakan sosok yang dekat dengan Al-Qur’an. Beliau juga lah yang memberi titik dan harakat pada huruf-huruf Al-Qur’an. Ia pun sangat bersemangat dalam berjihad dan menyebarkan Islam ke negeri-negeri lainnya, mudah berderma kepada orang-orang yang memuliakan Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, “Hajjaj pernah berkhutbah di hadapan kami, dia berkata, ‘Wahai anak Adam, sekarang kamu dapat makan, tapi besok kamu akan dimakan’. Kemudian dia membaca ayat, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kemudian ia menangis hingga air matanya membasahi surbannya.

Khalifah dan Anaknya

Membersamai anak-anak dalam menuntut ilmu juga dilakukan oleh para Khalifah Kerajaan secara langsung. Sulaiman bin Abdul Malik, seorang Khalifah dari Dinasti Umayyah, pergi bersama anaknya menuju seorang ahli ilmu bernama Atha’ bin Abi Rabah di Mekah. Begitu pula ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah membawa kedua anaknya, Amin dan Ma’mun ke majelisnya Imam Malik di Madinah untuk mendengarkan kitab Al-Muwatha’ secara langsung.

Muhammad Al-Fatih seorang anak dari Sultan Murad II, Khalifah dari Dinasty Utsmani, tidak terlepas dari pendidikan Islam sejak usia kanak-kanak. Sejak kecil ia telah dididik oleh ulama Rabbani seperti Ahmad bin Ismail Al-Kurani, sosok ulama yang saleh dan bertakwa.

Selain Al-Kurani, peran Syaikh Aaq Syamsuddin dalam membentuk kepribadian Muhammad Al-Fatih juga mendominasi. Sejak kecil, beliau menekankan dua hal kepada Al-Fatih :

  1. Meningkatkan semangat jihad pasukan Utsmani.
  2. Selalu mengisyaratkan kepadanya, bahwa yang dimaksud dalam hadits tentang pemimpin yang akan membuka kota Konstantinopel adalah dirinya sendiri.

Kedua hal ini menjadi hal yang mendominasi Muhammad Al-Fatih dalam perkembangan dirinya. Hingga akhirnya, pada usia 21 tahun ia berhasil menaklukkan kota Konstantinopel beserta 400 kapal dan 250.000 pasukannya.

Pendidikan dalam Istana merupakan elemen penting yang diperhatikan oleh para Khalifah. Ini merupakan salah satu upaya dalam mempersiapkan sosok dari keturunannya yang siap menerima amanah kekuasaan baik secara fisik maupun mental pada masa mendatang. Para orang tua di lingkungan Istana pula lah yang menentukan rencana atau kurikulum pelajaran yang akan diajarkan kepada anak-anaknya.

Pengajar dan Pendidikan Adab

Para pengajar di Istana tidak disebut sebagai guru biasa melainkan dengan istilah “muaddib” atau pendidik. Kata muaddib berasal dari kata “adab”. Sehingga para muaddib ini dituntut untuk memiliki keahlian dalam penanaman pendidikan adab atau budi pekerti setiap muridnya.

Sebagaimana kebiasaan muslimin saat itu, mereka sangat menghormati ahli ilmu, sehingga para pengajar di lingkungan Istana pun sangat dimuliakan dengan disediakannya sebuah paviliun khusus untuk dijadikan tempat tinggal atau untuk sekedar beristirahat. Selain itu pula, paviliun khusus ini juga dimaksudkan agar para pendidik dapat hidup bersama dengan para muridnya dan memberikan pendidikan rohani dan jasmani secara intensif.

Dengan demikian, pendidikan adab akan menjadi pondasi penting dalam setiap murid mempelajari berbagai ilmu yang dipelajarinya. Sebagaimana Al-Fatih ketika berhasil menaklukkan kota Konstantinopel, ia menceritakan kepada orang-orang di sekitarnya mengenai gurunya, Syaikh Aaq Syamsuddin, Al-Fatih berkata,

“Sesungguhnya kalian telah melihat saya demikian gembira. Rasa gembiraku ini bukan karena penaklukkan benteng ini saja, sesunggunya kehgembiraan saya terpancar karena adanya seorang Syaikh yang memiliki sifat mulia di zaman saya. Dia adalah guruku, Syaikh Syamsuddin.”

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _