Peran Sekolah dalam Pendidikan Hanya 20% (?)

peran-sekolah-dalam-pendidikan-hanya-20

Mayoritas dari kita merasa, bahwa sekolah memiliki peran terpenting dalam pendidikan anak. Jika anak kita punya sifat yang tidak baik, adab yang buruk, kurang cerdas, terkadang kita menjadikan sekolah sebagai sebab utama. Akhirnya, kita berlomba-lomba untuk mencari sekolah terbaik untuk anak-anak kita berapapun itu biayanya.

Namun ternyata, hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan oleh seorang pakar bernama Dr. Khalid Asy-Syantut, seorang pakar pendidikan dari King Abdul Aziz University, Jeddah, yang mengatakan bahwa porsi terbesar pendidikan anak ada pada orang tua, yaitu 60%. Sementara sisanya, 20% dari lingkungan sekitarnya dan 20% lagi sekolah. Ya sekolah hanya memiliki peran pendidikan sebanyak 20% menurut beliau.

Jika demikian, bagaimana seharusnya sikap kita, sebagai orang tua dalam membangun pondasi awal pendidikan mereka? Maka Islam pun memiliki solusinya. Mari kita kenali orang-orang yang berperan dalam tahapan pendidikan awal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

  1. Ibunda Aminah
  2. Tsuwaibah, Ibu susuan pertama
  3. Halimatus Sa’diyah, Ibu susuan setelah Tsuwaibah
  4. Syaima, saudara sepersusuan, anak dari Halimatus Sa’diyah
  5. Ummu Aiman, pengasuh juga yang membantu Aminah dalam proses kelahiran
  6. Fatimah bin Asad, pengasuh di masa kecil saat bersama Abu Thalib

Tidak ketinggalan peran pendidikan dari kalangan lelaki yang menggantikan peran ayahnya :

  1. Suami dari Halimatus Sa’diyah, Harits
  2. Kakeknya, Abdul Muththalib
  3. Pamannya, Abu Tholib

Sehingga, meski Rasulullah shalallahu alaihi wasallam lahir dalam keadaan yatim, beliau tidak merasa kehilangan sosok ayah di masa kecilnya. Bahkan Abdul Muththalib sangat berkeyakinan bahwa cucunya kelak akan menjadi pemimpin besar. Dan pasti ia tanamkan nilai-nilai kepemimpinan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, karena Abdul Muththalib sendiri adalah pemimpin Quraisy kala itu.

Seakan-akan Ayah bertugas sebagai arsitek yang merancang visi misi pendidikan keluarga. Ibunda layaknya seorang insinyur teknik sipil, yang melaksanakan visi misi keluarga dari rancangan sang Ayah. Sekolah layaknya seorang mandor yang membantu sang Ibu mengawasi jalannya pendidikan sesuai dengan visi misinya. Dan lingkungan adalah para pekerja bangunan yang berperan sebagai teman dalam proses pendidikan.

Jadi bagaimana bisa seorang mandor dan para pekerja melakukan aktivitas tanpa adanya kehadiran seorang Arsitek dan Insinyur?

Maka, sudah saatnya kita kembali hadir dalam kehidupan anak kita terutama di 5 tahun awal usia mereka. Dua tahun pertama merupakan tahap menyusui, dan mulai usia 3 tahun, anak akan mudah sekali meniru orang di sekitar terutama orang tuanya, maka semoga kita dapat menjadi teladan bagi mereka agar mereka hidup dengan pondasi yang baik nan kokoh.

Wallahu a’lam


Tulisan ini terinspirasi dari perkuliahan Akademi Keluarga Parenting Nabawiyah, Yayasan Al-Fatih Pilar Peradaban. Juga dari perkuliahan Akademi Guru Al-Fatih saat mata kuliah Parenting Nabawiyah. Jika kesalahan dalam pencatatan atau pemahaman, kami sangat terbuka untuk dikoreksi. Jazakumullah Khair.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _