For details about bluehers.com.Best knockoff watches.On The Online Website best luxury replica watches.Bonuses rolex replicas for sale amazon.Wiht 80% Discount https://www.montrerepliques.com/.pop over to this website https://cheapreplicawatch.net/.click for source fake richard mille.hop over to this site replica watches for sale in usa.redirected here the best replica watches in the world.next page www.gzwatches.com.my sources https://www.homeswatches.com/.pop over to this site quality replica watch.find more attorneywatches.check my source omega replica watches.discover this info here https://www.sextagheuer.com/.costly and then again, the copies are of less expense. franck mueller replica.click here to find out more richard mille replica.click this site https://www.petswatches.com/.Fast Delivery bell and ross replica watches.

Perbaikan Literasi, Langkah Awal Memperbaiki Generasi

perbaikan-literasi-langkah-awal-memperbaiki-generasi

Keutamaan ilmu, merupakan keutamaan yang jika dituliskan, maka tidak akan pernah habis dituangkan. Hadits yang mengabarkan bahwa menuntut ilmu menjadi sebab dimudahkannya jalan menuju surga, sudah cukup menjadi keutamaan yang luar biasa.

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Sebagian ulama mengatakan, “Allah tidak pernah memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta tambahan dalam suatu perkara, kecuali dalam perkara ilmu.” Maka cukuplah ini menjadi penegas suatu keutamaan.

Mulianya ilmu, berefek pada mulianya orang yang bergelut didalamnya, baik itu sebagai guru, penuntut ilmu ataupun yang lainnya. Berefek pula pada setiap aktivitas serta sarana prasarananya.

Ilmu menjadi suatu yang sangat penting, sebab ilmu merupakan syarat diterimanya amal. Ilmu harus menjadi asas setiap apa yang dilakukan, karena berasaskan ilmu inilah perbaikan generasi dilakukan dan peradaban Islam ditegakkan. 

Ketika Allah mengaruniakan ilmu, ada hak yang harus ditunaikan. Selain diamalkan, hak lainnya adalah dengan kembali diajarkan. Berkat kasih sayang Allah, aktivitas mengajarkan ilmu menjadi salah satu cara paling utama untuk memperdalam pemahaman dan mengikat ilmu agar tidak hilang atau terlupakan.

Mengajarkan ilmu bisa secara langsung melalui lisan, ataupun dengan menyebarkannya melalui tulisan. Mengajarkan melalui lisan merupakan hakikat yang tidak perlu lagi banyak dijelaskan, karena memang seperti itulah yang dipraktekan para guru peradaban, terutama Rasulullah Shalallahu Alaihi wassalam.

Namun, dalam mengajarkan dengan cara menuliskan, baik diperuntukan untuk orang lain atau minimal untuk diri sendiri sebagai catatan, tidak banyak hari ini orang yang melakukan. Padahal menulis merupakan perintah Rasulullah, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya,” (Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026).

Imam Syafi’i lebih jauh menjelaskan, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, (tapi) setelah itu engkau tinggalkan terlepas begitu saja.”

Tapi, jangankan menulis, membaca masih bermasalah di negeri ini, padahal itu merupakan bekal utama untuk menulis. Data UNESCO menyebutkan, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. 

Guru sebagai ujung tombak perbaikan masyarakat, memikul tanggung jawab besar atas permasalahan ini. Sebelum mengharapkan kualitas literasi yang baik pada masyarakat, semua harus dimulai pada pribadi para guru. 

Mari berkaca pada Ibnul Jauzi, seorang ulama yang wafat tahun 597 Hijriah, ia pernah bercerita, “Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun… Aku pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu.” 

Dengan bacaan sedemikian banyak, maka wajar jika karya tulis Ibnul Jauzi mencapai sekitar 500-an buku. Sungguh jauh bila membandingkan kondisi hari ini dengan keadaan para ulama terdahulu. Padahal ini baru contoh dari satu ulama terdahulu, jika kembali dipaparkan contoh lainnya, tentu akan membuat kita tertunduk malu.

Tapi bagi para guru yang bercita-cita kembali menegakkan peradaban, kembali melahirkan generasi sekualitas para sahabat Nabi, kembali menyinari bumi dengan ilmu dan petunjuk Ilahi, ini menjadi sebuah penegasan. Bahwa dari merekalah perbaikan harus dimulai; dengan langkah kecil perbaikan baca-tulis yang terus ditingkatkan. 

Dengan perbaikan kualitas literasi para guru, peningkatan kualitas literasi akan turun pada generasi yang mereka didik dengan sepenuh hati. Ini menjadi setitik harapan kembalinya generasi istimewa yang layak kembali menegakkan peradaban, dengan kualitas karya setingkat para ulama, memakmurkan bumi yang sudah lama tersakiti dengan ilmu dan panduan Ilahi.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _