Sejarah dan Satu Surat Al Quran

sejarah-dan-satu-surat-al-quran

AKADEMI GURU AL FATIH | Ali bin Husain bin Ali, siapa yang tidak kenal dengan cicit Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang satu ini. Dikenal dengan gelar Zainul ‘Abidin karena gemarnya beribadah baik di siang maupun malam hari.

Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam al Nubala menyampaikan banyak kisah tentangnya. Salah satu kisah yang sering dinukilkan dalam beberapa buku dan makalah adalah saat Ali bin Husain bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.

Riwayat lain menyebutkan, bahwa sedekah tersebut untuk para janda. Beberapa orang mengira Ali bin Husain orang yang pelit karena menyembunyikan hartanya, akan tetapi semua dugaan tersebut sirna tatkala sedekah yang diterima oleh para janda terputus bersamaan dengan meninggalnya Ali bin Husain.

Ini salah satu kisah tentang Ali bin Husain cicit manusia mulia. Tapi tahukah kita, kalau Ali bin Husain mempunyai ungkapan yang sangat akrab di kalangan para pakar siroh?.

Mari kita simak ungkapan cicit Nabi berikut ini: “Kunnaa nu’allamu maghaziya ‘an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kamaa nu’allamu as suroh minal Qur’an”. Atau dalam terjemahan Indonesia adalah “Kami diajari kisah peperangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana kami diajari satu surat dari Al Qur’an”. Dalam riwayat yang lain: “Kami diajari kisah peperangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kisah perjalanan hidupnya sebagaimana kami diajari satu surat dari Al Qur’an”.

Perhatikan, ada dua hal setidaknya yang dapat kita pahami:

Pertama kedudukan kisah orang-orang terdahulu atau sejarah dalam Islam. Mempelajari Al Qur’an bagi orang beriman ibarat manusia yang setiap hari membutuhkan makanan untuk menopang hidupnya, tanpa makanan manusia tidak bisa hidup dan begitulah Al Qur’an bagi orang beriman.

Para sahabat Nabi dalam mempelajari Al Qur’an membagi per sepuluh ayat. Tidak pindah ke ayat setelahnya sebelum memahami ayat tersebut dan mengamalkannya, inilah kedudukan Al Qur’an bagi para sahabat. Dan kedudukan sejarah oleh Ali bin Husain disejajarkan dengan mempelajari Al Qur’an.

Artinya sejarah tidak bisa dipisahkan dari tubuh agama Islam, karena di sejarah terdapat banyak ilmu, hikmah-hikmah, motivasi, penyelesaian masalah dan sudah menjadi maklum bahwa sepertiga al Qur’an adalah kisah umat terdahulu.

Kedua adalah masa belajar Ali bin Husain. Perhatikan kata “kunnaa” dalam ungkapan Ali bin Husain diatas. Dalam bahasa arab kata “kunnaa” terdiri dari dua kata yaitu “kaana” yang menunjukkan masa lalu dan “naa” adalah kata ganti sambung yang artinya kami.

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kata “kunnaa” menunjukkan masa lalunya Ali bin Husain, artinya apa? tepat sekali artinya adalah masa kecil Ali bin Husain dimanfaatkan untuk belajar sejarah.

Sebagaimana dalam kitab Al hatstsu ‘ala hifdzi al ‘ilmi disebutkan bahwa sejak kecil anak-anak umat Islam diajari Al Qur’an. Maka sejarah disajikan pula untuk generasi umat Islam bahkan sejak usia mereka belum menginjak masa baligh.

Dan begitulah kedudukan sejarah dari lisan cicit manusia mulia. Semoga Allah meridhaimu wahai Ali bin Husain, Engkau telah menyadarkan kami akan pentingnya sejarah dalam kehidupan manusia.

Oleh: Ardhan Misa Tonadisiki

Dosen Mata Kuliah Siroh

Tags:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*
Powered by