Suami Qowwamah dan Istri Shalihat

suami-qowwamah-dan-istri-shalihat

AKADEMI GURU AL FATIH | Ada satu soal di Ujian Akhir Mustawa mata kuliah Parenting Nabawiyyah yang membuat saya merenung sampai hari ini. Yakni mengenai konsep suami qowwamah dan istri shalihat. Yang ternyata saat saya berusaha membaca lagi materinya, merenungi, merefleksikannya membuat saya menyadari satu hal yang amat penting. Bahwa suami qowwamah dan istri shalihat merupakan keseimbangan peran yang akan menjaga keseimbangan peradaban. Merenunginya, membuat saya semakin terkagum bahwa ternyata al-Quran memang sesempurna itu dalam mengatur setiap lini kehidupan manusia, maasyaAllah.

Saat kita bicara mengenai rumah tangga. Ada dua peran penting di dalamnya, yakni suami dan istri. Masing-masing mempunyai tanggungjawab yang telah Allah atur. Masing-masing mempunyai kewajiban, menjadi suami yang qowammah dan menjadi istri yang shalihat.

Allah berfirman dalam surah an Nisa ayat 34:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)… ”

Seorang lelaki adalah pemimpin bagi wanita, termasuk di dalam rumah tangga. Seorang suami yang qowwamah bagi istri dan anak-anaknya tentu akan menjalankan biduk rumah tangganya menuju sebuah destinasi yang tepat dan pasti. Dan dengan jiwa kepemimpinannya mampu mengajak seluruh anggota keluarganya untuk mencapai tujuan tersebut.

Ya, suami yang qowwamah tentu dapat merumuskan visi keluarga. Ia tahu apa yang seharusnya menjadi tujuan bagi seluruh anggota keluarga. Tujuan atau visi tersebut tentunya bersumber dari kalamullah, yakni untuk dapat bertemu kembali di surga (surah at-Thur : 21).
Dan suami qowwamah tentu paham betul bahwa untuk membawa seluruh anggota keluarga menuju surga maka ia harus menjaga seluruh anggota keluarganya dari api neraka (at-Tahrim: 6) sehingga tidak ada pemakluman sedikitpun jika ada pelanggaran syariat yang dilakukan oleh anggota keluarganya. Dengan ketegasn dan kewibawaannya, ia mampu menerapkan aturan dalam keluarga.

Suami adalah qowwam, dan ia paham bahwa dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin tak boleh hanya menuntut tanpa memenuhi hak. Suami yang qowwamah tentu akan berusaha amat keras dan tak mudah putus asa untuk dapat memberi nafkah yang baik bagi istri dan anak-anaknya (surah al-Baqarah : 233. Ia akan menunjukkan akhlak yang baik terhadap seluruh anggota keluarganya sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya” (HR. Tirmidzi)

Suami adalah qowwam, dan seorang pemimpin tentu tahu bahwa ia tak boleh hanya menerapkan aturan demi aturan tanpa memberi teladan. Ia menginginkan istri dan keturunan yang qurrata a’yun (al- Furqon: 74) tentunya ia paham bahwa ia lah orang pertama yang harus menyenangkan saat dipandang oleh istri dan anak-anaknya. Menyenangkan dari berbagai aspek, fisik maupun batin, sikap maupun tabiat. Ia tak malu untuk berlemah lembut saat mengajarkan ilmu, memberi nasihat maupun menegur anggota keluarganya yang salah. Ia tak gengsi membantu urusan rumah tangga istrinya ataupun mengurus anak-anaknya. Ia menjadi teladan dalam berbagai kebaikan, ia menjadi suami dan ayah idola bagi istri dan anak-anaknya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*
Powered by