Suapan Pertama dan Pelajaran Tauhid

suapan-pertama-dan-pelajaran-tauhid

Menjadi orang tua, artinya berusaha menjadi orang pertama tempat anak belajar segala hal.

Ketika lahir, anak belum mampu melakukan apapun bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhannya ketika haus. Setiap anak membutuhkan orang tua untuk membantunya, mengasuhnya, mendidiknya mengenai segala sesuatu sampai ia mampu menjadi makhluk mandiri yang dapat membantu dirinya sendiri bahkan dapat mengetahui benar salah aturan agama serta adab dan akhlak. Karenanya, berilmu adalah suatu keharusan bagi setiap orang tua agar dapat mengasuh dan mendidik anak dengan tepat sesuai dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki dan yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam contohkan.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan setiap orang tua adalah ketika memberikan anak makanan. Makan merupakan kebutuhan asasi yang diperlukan oleh setiap manusia, bahkan para nabi sekalipun. Allah berfirman dalam surah al-Anbiya’ ayat 8 yang berbunyi:

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ

“Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.”

Banyak fenomena di dalam masyarakat tentang makan dan makanan. Mulai dari yang paling umum yakni banyaknya manusia yang rela bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar tersebut. Banyak pula yang menghalalkan segala cara juga untuk memenuhi kebutuhan perut tersebut. Ada pula fenomena yang kekinian seperti orang-orang yang rela menghabiskan banyak uang hanya untuk menikmati satu jenis makanan yang menurutnya istimewa, banyaknya foto makanan bertebaran di media sosial dengan dalih berbagi inspirasi. Hingga issue banyaknya ibu muda yang belajar kesana kemari, diskusi dengan para pakar berharap keberhasilan saat memberi makan anak untuk pertama kali (Makanan Pendamping ASI).

Satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa dalam ajaran Islam, seharusnya aktivitas makan tak hanya sekadar urusan perut dan syahwat atau sekadar trend dan gaya hidup yang mengagungkan kuliner.

Dalam aktivitas makan ada pelajaran dan hikmah yang begitu besar yang tentunya dapat menambah keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan inilah yang harus diajarkan setiap orang tua kepada anak-anaknya, sejak sang anak mengenal suapan pertamanya ketika usianya baru saja genap enam bulan. Bahwa dalam aktivitas makan, ada pelajaran tauhid di sana, ada adab yang harus dijaga dan ada ridho Allah yang seharusnya menjadi tujuan untuk apa ia makan.

Ketika seorang ibu memberikan suapan pertama pada anaknya, ia dapat mengenalkan tentang Allah subhanahu wa ta’ala sekaligus menanamkan nilai-nilai keimanan. Semakin anak tumbuh besar, orang tua dapat mengenalkan adab dan aturan Islam mengenai makanan. Untaian nasihat pun dapat selalu diberikan ketika sebuah keluarga berada dalam aktivitas makan, sebagaimana Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wa sallam yang sering memberikan nasihat kepada para sahabat ketika sedang makan bersama. Nasihat yang akan membekas dalam sanubari sang anak dan akan membentuk sifat serta karakter anak. Hingga tanpa disadari, bisa jadi dari aktivitas makan tersebut akan muncul pribadi-pribadi yang berakhlak mulia, seperti: senantiasa beryukur, qana’ah, taat dengan syariat, dermawan, menjaga diri, menghargai orang lain dan sifat-sifat terpuji lainnya. Berikut ini adalah beberapa pelajaran dan hikmah yang dapat orang tua tanamkan kepada anak dalam aktivitas makan:

  1. Pelajaran Tauhid

“Rizki minallah”, rizki itu datangnya dari Allah adalah hal paling sederhana yang dapat diajarkan orang tua ketika menyuapi anak, menyiapkan makanan untuk anak ataupun ketika orang tua makan bersama anak. Sebuah bentuk pengenalan tauhid rububiyah, bahwa Allah lah yang memberi rizki kepada setiap makhluk-Nya sebagai bentuk pemeliharaan-Nya kepada makhluk yang telah diciptakan-Nya. Sebagaimana Nabi Ibrahim yang berkata kepada kaumnya dalam surah asy-Syu’ara ayat 77-80:

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah adalah musuhku. Lain halnya dengan Tuhan seluruh alam. Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku. Dan yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku…”

Setelah mengenalkan tauhid rububiyah ini, setiap orang tua dapat memberikan pemahaman pada anak bahwa karena Allah sudah memberikan rizki kepada kita, maka tak layak apabila kita menyekutukan-Nya dalam ibadah (tauhid uluhiyah). Dalam hal ini orang tua juga dapat menguatkan bahwa hanya Allah yang dapat memberi kita makan, jika Allah tidak memberikan kita makan maka kita akan terus berada dalam kelaparan. Sebagaimana hadits Arbain an-Nawawi ke-24 yang artinya:

“…Wahai hambaKu, kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian. Wahai hambaKu, kalian semua telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu, niscaya Aku akan memberikannya untuk kalian…”(HR. Muslim)

  1. Belajar Menjadi Hamba yang Bersyukur

Pada setiap suapan yang kita makan, adalah nikmat Allah yang harus kita syukuri. Demikianlah pelajaran berikutnya yang dapat diajarkan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Tidak selayaknya kita menjadi hamba yang kufur dengan mengabaikan nikmat berupa makanan dari Allah tersebut. Karena sesungguhnya bersyukur adalah kebutuhan kita sebagai seorang hamba dan sama sekali bukanlah kebutuhan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surah Luqman ayat 12:

“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Pada kesempatan menjelaskan tentang syukur ini, orang tua dapat menyampaikan bahwa hakikat syukur ada 5 hal sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Abdurrozaq bin Abdul Muhsin al-Abbad yakni: (1) Ketundukan orang yang bersyukur kepada yang memberi (Allah), (2). Mencintai sang pemberi, (3) Mengakui nikmatnya, (4) Memuji sang pemberi atas nikmat tersebut, (5) Tidak menggunakan kenikmatan tersebut pada sesuatu yang dibenci oleh yang memberi yaitu Allah.

  1. Pelajaran Mengenai Qana’ah

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi; dihasankan oleh Al-Albani)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di atas hendaknya dapat memotivasi orang tua untuk memberikan pelajaran kepada anak-anaknya bahwa: bisa makan pada hari ini adalah rizki yang begitu besar sehingga sudah seharusnya anak merasa cukup dengan apa yang Allah beri pada hari itu, apapun menunya, apapun lauknya. Inilah pelajaran qana’ah yang sesungguhnya. Tidak menunggu harta melimpah dan makanan mewah untuk merasa cukup.  Dengan demikian, anak dapat belajar untuk menerima apapun makanan yang diberikan kepadanya dengan penuh rasa syukur dan qana’ah.

  1. Taat pada Allah dengan Mempelajari Adab Makan

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Wahai ananda, sebutlah Nama Allah (bismillaah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari)

Hadits di atas merupakan salah satu adab makan yang sudah seharusnya diketahui setiap orang tua sehingga dapat diajarkan kepada anak-anaknya. Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang bagaimana adab Rasulullah saat memulai makan, saat makan hingga setelah makan, bagaimana Rasulullah memaknai aktivitas makan yang diniatkan sekadar untuk menegakkan punggung agar kuat beribadah, bagaimana Rasulullah yang senantiasa memuji dan tidak pernah mencela makanan. Dengan mengajari anak adab makan, orang tua telah mengajari anak untuk taat pada Allah dengan mengikuti sunnah Rasul-Nya. Dengan demikian semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap suapan yang masuk ke dalam tubuh anak-anak kita.

  1. Membenci Makanan Haram dan Menjaga diri dari yang Syubhat

Di antara pelajaran lain yang dapat orang tua berikan ketika menyuapi anak ataupun makan bersama anak adalah memberi informasi kepada anak mengenai makanan-makanan apa saja yang haram serta nasihat untuk sekuat mungkin menjauhinya. Dan menyampaikan keutamaan menjaga diri dari makanan yang kehalalannya masih diragukan dalam rangka menaati aturan Allah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram...”(HR. Bukhari)

  1. Menahan Diri dari Rakus atau Justru Membadzirkan Makanan

Rakus terhadap makanan atau justru membuang-buang makanan adalah perbuatan tercela yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Saat menyuapi anak atau makan bersama anak, orang tua dapat menjelaskan bahwa orang yang rakus, banyak makan dan selalu merasa kenyang mempunyai banyak keburukan, sebagaimana ungkapan Fudhail bin ‘Iyadh: Ada dua hal yang menyebabkan hati menjadi beku dan keras yaitu banyak berbicara dan banyak makan. serta sabda Rasulullah yang diriwayatkan Tirmidzi, “Sesungguhnya orang yang paling sering kenyang di dunia, dia paling lama laparnya di akhirat”.

Begitu pula sebaliknya, Allah dan Rasulullah pun membenci orang yang berbuat mubadzir terhadap makanan. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Isra’ ayat 27: “Dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir, sesungguhnya orang yang suka bersikap tabdzir adalah teman setan.

  1. Belajar Berbagi

Salah satu pelajaran penting yang dapat diajarkan orang tua kepada anak saat makan bersama adalah pentingnya berbagi. Allah menyukai hamba yang memberi makan orang lain, Rasulullah pun mengajarkan setiap umatnya untuk berbagi. Sebagaimana hadits dari Abu Dzar, Rasulullah bersabda, “Jika kamu membuat kuah (masakan), maka perbanyaklah airnya, kemudian perhatikanlah anggota keluarga tetanggamu dan berikanlah kebaikan dari kuah tersebut.”

Memberi makan anak bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan ada pelajaran keimanan yang dapat ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Dengan menyisipkan nasihat ketika menyuapi anak atau saat makan bersama anak, diharapkan dapat menjadi upaya membentuk generasi yang berakhlak mulia dengan keimanan yang kokoh.

Wallahu a’lam bish shawwab

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _