Totalitas Dalam Kebaikan

totalitas-dalam-kebaikan

Sabtu, 18 Agustus 2018, saya berangkat ke Lombok bersama 3 relawan Al Fatih lainnya. Kepulangan saya di libur Idul Adha kali ini adalah untuk pulang kampung yang tidak direncanakan, yang saya katakan adalah hadiah dari Allah. Karena selama 5 tahun menuntut ilmu di tanah Jawa, saya selalu merayakan Idul Adha di perantauan. Saya hanya berpikir, daripada bayar ongkos pulang pergi ke Lombok dan libur hanya sebentar, lebih baik uangnya (kalau ada) untuk berqurban.

Tetapi kali ini, Allah punya rencana lain, Allah kabulkan doa-doa hambaNya, baik yang telah terucap maupun yang masih di angan. Beberapa hari sebelum keberangkatan, ketika pulau tempat saya dilahirkan tertimpa bencana, terbesit angan untuk pulang, menjenguk saudara-saudara saya disana, dan saya ingin ikut terlibat meringankan beban mereka. Sebelumnya juga, saya pernah membatin, saya ingin lebih sungguh-sungguh belajar berkisah, melatih kemampuan berkisah, dan mempraktikkannya. Sekali lagi, Allah kabulkan doa-doa hambaNya, baik yang telah terucap atau yang masih di angan.

Kamis sore, 16 Agustus 2018, Mudir AGA menyampaikan tugas untuk saya menjadi relawan Al Fatih yang dikirim ke Lombok. Beliau menyampaikan bahwa fokus program relawan Al Fatih dalam membantu korban bencana gempa Lombok adalah di bidang pendidikan, khususnya pada Pendampingan Anak, dan salah satu caranya adalah dengan berkisah. Alhamdulillah, saya bisa pulang, dan saya bisa belajar berkisah, bahkan langsung mempraktikkannya.

Saya sangat suka dengan bagaimana cara lembaga ini bekerja. Sistem yang tersusun rapi, rencana yang matang, strategi yang mantap dan tentunya totalitas. Relawan yang berangkat ke Lombok pertama kali bukan guru yang akan mendampingi anak-anak, justru yang dikirim pertama kali adalah orang yang terbiasa survey lokasi, melakukan pendekatan dengan masyarakat, sampai terbentuklah Posko Relawan Al Fatih. Beliau-beliau yang dikirim pertama kali adalah yang mempunyai kemampuan menyiapkan tempat, menyambungkan aliran listrik, menyiapkan akomodasi dan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, bersama ketua kontingen, dan tak lupa membawa tim media. Setelah semua siap, barulah para guru berangkat ke Lombok. Beliau-beliau yang dikirim pertama kali tidak langsung pulang, akan tetapi semua informasi yang didapat sebelum kami ditransfer terlebih dahulu. Kami samakan frekuensi serta kami selaraskan visi dan misi.

Saya sangat takjub dengan bagaimana lembaga ini berusaha memberikan yang terbaik, melakukan kebaikan dengan totalitas. Malam pertama kami sampai Lombok langsung briefing, tak peduli apa itu jetleg atau mabuk akibat jalanan menuju lokasi yang berkelok-kelok. Saya merasa seperti sedang berada dalam misi besar yang sangat serius. Malam itu juga kami langsung menyusun rencana KBM esok pagi.

Sebelum kami melangkah lebih jauh, Ustadz Walid Ilham mengingatkan kami, “di luar sana juga banyak relawan yang mencoba melakukan trauma healing. Mereka keliling ke posko-posko pengungsian, nyanyi-nyanyi, bersorak, tepuk riang bersama, setelah itu foto bersama, kemudian selesai. Namun kita disini tidak seperti itu, kita harus maksimalkan dan tuntaskan semuanya. Kita datang kesini bukan hanya untuk menciptakan bahagia sesaat, lalu setelah relawan pergi trauma dan kesedihan mereka kembali lagi. Tetapi kita kesini untuk mendampingi mereka, menanamkan nilai-nilai baik, mencari dan menemukan pola belajar anak-anak, membiasakan mereka menyebut nama Allah, mengenal Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, hingga nanti in syaa Allah akan terbentuk sekolah semi permanen, yang in syaa Allah menjadi sekolah permanen. Hingga nanti in syaa Allah terbentuk cabang Kuttab Al-Fatih Lombok, atau paling tidak sekolah disini memakai kurikulum Al-Fatih.”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? *_*
Powered by