Tugas Seorang Pendidik

tugas-seorang-pendidik

Setidaknya ada tiga ayat di dalam Al-Qur’an yang berisi tentang tugas Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam, diantaranya,

  1. “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah : 151)
  2. “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Jumu’ah : 2)
  3. “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali-Imran : 164)

Ketiga ayat diatas merupakan ayat yang senada, yakni Rasulullah diberikan sebuah tahapan dalam tugasnya :

  1. Membacakan ayat-ayat (Talaqqi)
  2. Mensucikan Jiwa
  3. Mengajarkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah)

Tambahan di Surat Al-Baqarah : 151 adalah mengajarkan apa-apa yang belum diketahui oleh setiap manusia.

Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba memaparkan tentang tahapan ini lewat kisah seorang sahabat yang awalnya ia adalah seorang musyrik, kemudian melihat betapa indahnya Islam di diri Rasulullah, hingga hidayah masuk kedalam jiwanya dan akhirnya ia berkontribusi besar dalam sebuah peristiwa besar dan wafat sebagai muslim. Beliau bernama Tsumamah bin Utsal radhiyallahu anhu.

***

Dilansir dari Kisahmuslim.com, di tahun keenam hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat memperluas wilayah cakupan dakwah beliau kepada Allah,dengan menulis surat kepada raja-raja di sekitar wilayah Arab untuk menyeru mereka kepada Islam. Salah satunya ialah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi. Seorang raja Yamamah yang perintahnya senantiasa ditaati.

Tsumamah menerima surat tersebut dengan sikap angkuh dan melecehkan. Bahkan Dia mulai mencari peluang untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai dia mendapatkan kesempatan itu. Kejahatan buruk ini hampir terlaksana jika saja salah seorang paman Tsumamah tidak mengurungkan niat Tsumamah di kesempatan terakhirnya, sehingga Allah menyelamatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meskipun demikian, Tsumamah berhasil membunuh beberapa sahabat Rasulullah dan membunuh mereka secara emosional, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghalalkan darahnya dan mengumumkannya di hadapan para sahabatnya.

***

Suatu ketika Tsumamah berniat untuk menunaikan ibadah umrah, maka dia berangkat meninggalkan bumi Yamamah menuju Mekah, dia sudah membayangkan akan melaksanakan tawaf dan menyembelih kurban untuk berhalanya.

Ketika Tsumamah dalam perjalanan menuju Mekah di dekat kota Madinah, dia mendapatkan sebuah musibah yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

Sebuah pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berpatroli di sekeliling Madinah memergoki perjalanan Tsumamah. Pasukan ini menawan dan membawanya ke Madinah, sementara mereka tidak mengenal siapa dia.

Lalu Tsumamah diikat di salah satu tiang di Masjid Nabawi, menunggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dan menetapkan perintahnya padanya.

Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba dan hampir masuk ke dalamnya, beliau melihat Tsumamah terikat di sebuah tiang, maka beliau bersabda, “Apakah kalian tahu siapa dia?”

Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”

Beliau berkata, “Ini Tsumamah bin Utsal al-Hanafi, tawanlah dia dengan baik.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke keluarga beliau seraya bersabda, “Kumpulkanlah makanan lezat yang kalian miliki dan hidangkalah kepada Tsumamah bin Utsal.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar onta beliau diperah di pagi dan sore hari lalu susunya disuguhkan kepada Tsumamah.

Semua itu dilakukan kepada Tsumamah sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengannya dan sebelumnya beliau berbicara kepadanya.

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Tsumamah, beliau ingin menyerunya kepada Islam secara perlahan, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Dia menjawab, “Aku mempunyai kebaikan wahai Muhammad, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah, namun jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf  kepada orang yang berterima kasih. Jika kamu ingin harta, maka katakan saja niscaya kamu akan kami berikan apa yang kamu inginkan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkannya dalam keadaan demikian selama dua hari. Makanan dan minuman lezat selalu disuguhkan kepadanya, susu onta tetap diperah untuknya. Kemudian Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya kembali, beliau bertanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Tsumamah menjawab dengan jawaban yang sama dengan sebelumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya, di hari berikutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang lagi kepadanya, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Dia pun menjawab dengan jawaban yang sama untuk ketiga kalinya.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat para sahabatnya dan bersabda, “Lepaskan Tsumamah.”

Maka mereka membuka ikatannya dan melepaskannya. Tsumamah akhirnya meninggalkan Masjid Nabawi dan dia pun berlalu sampai tiba di sebuah kebun kurma di pinggiran kota. Tsumamah menghentikan kendaraannya di sana. Dia bersuci dengan menggunakan airnya secara baik, kemudian membalikkan langkahnya kembali menuju Masjid Nabawi.

Begitu dia tiba di masjid, dia berdiri di hadapan sekumpulan orang dari kaum muslimin dan berkata,

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.”

Selanjutnya Tsumamah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

“Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah tidak ada negeri yang paling aku benci melebihi negerimu, namun saat ini ia menjadi negeri yang paing aku cintai.”

***

Ya, Tsumamah diikat di tiang Masjid Nabawi selama beberapa hari bukan tanpa sebab. Pertama, memang dalam memperlakukan tawanan, Rasulullah dan umat muslim tidak pernah menyiksa mereka. Bahkan sebaliknya, mereka sengaja memperlihatkan betapa indahnya akhlak kaum muslimin. Selain itu ayat-ayat senantiasa dilantunkan di dalam Masjid. Hal ini membuat jiwa Tsumamah pun demikian bergejolak hingga Allah takdirkan ia mendapati hidayah Islam.

Penulis berkesimpulan bahwa jika kita dapati diri ini dekat dengan lantunan ayat Al-Qur’an, membacanya, mentadabburinya bahkan mengkajinya dalam sebuah majelis ilmu, niscaya ia akan menjadi obat bagi hati kita. Menggerus bercak hitam yang ada di hati ini dan menyucikan jiwa kita.

Dengan demikian, kita berharap agar dapat dengan mudah menerima cahaya Islam yang begitu terang benderang yang telah dibawa oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sejak 14 abad yang lalu. Mudah-mudahan.

 

Penulis: Diaz Pradiananto (AGA 6)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
1
Assalamu 'Alaikum
Apakah ada yang bisa kami bantu? _